
CILACAP, WARTAPERWIRA.COM | Minggu (15/3) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat di wilayah rawan kekeringan untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau 2026 yang diprakirakan memiliki curah hujan di bawah normal.
Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, Teguh Wardoyo, mengatakan awal musim kemarau 2026 di sejumlah wilayah Jawa Tengah diprakirakan terjadi pada waktu yang berbeda-beda.
“Untuk tahun 2026, sifat curah hujan diprakirakan di bawah normal sehingga musim kemarau 2026 diprakirakan lebih kering dibandingkan kondisi normalnya,” kata Teguh di Cilacap, Sabtu, dikutip dari ANTARA News.
Ia menjelaskan awal musim kemarau 2026 di Kabupaten Cilacap secara umum diprakirakan terjadi pada Mei dasarian kedua. Namun, untuk wilayah pesisir tenggara seperti Kecamatan Binangun dan Nusawungu diprakirakan lebih awal, yakni pada Mei dasarian pertama.
Durasi musim kemarau di Kabupaten Cilacap diperkirakan berlangsung selama 14–18 dasarian atau sekitar 140–180 hari dengan sifat musim kemarau di bawah normal. Kondisi tersebut menunjukkan curah hujan selama musim kemarau diprakirakan lebih rendah dari kondisi normal sehingga potensi kekeringan perlu diantisipasi sejak dini.
Sementara itu, untuk wilayah Kabupaten Banyumas, awal musim kemarau 2026 diprakirakan terjadi secara bertahap di sejumlah wilayah. Pada dasarian pertama Mei, musim kemarau diprediksi mulai terjadi di Banyumas bagian tenggara. Selanjutnya pada Mei dasarian kedua meliputi wilayah barat daya dan selatan, sedangkan wilayah utara dan tengah diprakirakan baru memasuki musim kemarau pada Juni dasarian kedua.
Durasi musim kemarau di Banyumas diperkirakan berkisar 11 hingga 18 dasarian atau sekitar 110–180 hari dengan sifat musim kemarau di bawah normal. Adapun puncak musim kemarau diprakirakan terjadi pada Agustus 2026.
Untuk wilayah Kabupaten Purbalingga, awal musim kemarau diprakirakan terjadi pada Juni dasarian pertama di wilayah bagian utara, serta pada Juni dasarian kedua di wilayah barat laut dan selatan. Durasi musim kemarau di daerah tersebut diperkirakan berlangsung sekitar 12 dasarian atau sekitar 120 hari dengan puncak kemarau juga diprediksi terjadi pada Agustus 2026.
Teguh menambahkan, kondisi musim kemarau pada 2026 diprakirakan berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2025, sifat hujan di sejumlah wilayah tercatat di atas normal, bahkan beberapa wilayah di Kabupaten Banyumas mengalami hujan hampir sepanjang tahun sehingga musim kemarau tidak terlihat secara jelas.
Selain itu, BMKG juga memprakirakan periode pancaroba atau masa peralihan dari musim hujan menuju kemarau terjadi pada April hingga Mei 2026. Pada masa tersebut masyarakat diminta mewaspadai potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat disertai petir dan angin kencang, termasuk kemungkinan angin puting beliung serta kondisi cuaca yang terasa cukup panas.
BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca terkini dan meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan kondisi cuaca yang dapat terjadi secara tiba-tiba.
“Pada masa tersebut masyarakat diimbau mewaspadai potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat disertai petir dan angin kencang, termasuk kemungkinan angin puting beliung serta kondisi cuaca yang terasa cukup panas,” kata Teguh.
Redaksi Warta Perwira