Foto : Prosesi Silaturahmi dan pelepasan calon jamaah haji KBIH Gema Arofah Wonosobo.(ilham/wartaperwira.com
WONOSOBO, WARTAPERWIRA.COM |Sabtu (4/4) – Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Gema Arofah Kabupaten Wonosobo menyelenggarakan kegiatan silaturahmi jamaah haji lintas generasi (2005–2025) yang dirangkai dengan pelepasan 175 calon jamaah haji tahun 2026/1447 H. Acara ini berlangsung di Gedung Adipura Kencana Wonosobo.

Silaturahmi dan Pelepasan Jamaah Haji Harapan Kemabruran
Kegiatan silaturahmi ini tidak hanya menjadi agenda seremonial rutin, melainkan juga menjadi momentum refleksi bersama mengenai hakikat ibadah haji sebagai perjalanan transformasi menyeluruh. Haji dipahami bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi juga mencakup dimensi spiritual, sosial, hingga aspek biologis manusia.
Sebanyak 175 calon jamaah yang diberangkatkan terdiri dari 82 laki-laki dan 93 perempuan. Mereka dilepas dengan iringan doa dan harapan agar mampu menjalankan seluruh rangkaian ibadah secara sempurna serta kembali dengan predikat haji mabrur dan mabruroh, yang dalam ajaran Islam dipandang sebagai puncak keberhasilan ibadah haji.
“Ketua KBIHU Gema Arofah, H. Teguh Ridwan, menegaskan bahwa ibadah haji tidak hanya menuntut kesiapan spiritual, tetapi juga kekuatan fisik. Ia menyebutkan bahwa sebagian besar rangkaian haji didominasi aktivitas fisik, sehingga menjaga kesehatan menjadi hal yang sangat penting,”ujar Teguh Ridwan dalam sambutannya.
Nilai Ta’awun dan Kesempurnaan Ibadah
Nilai ta’awun atau saling tolong-menolong, terutama bagi jamaah yang lebih muda untuk membantu yang lebih tua sebagai bagian dari nilai kemabruran.
“Lebih lanjut, Teguh Ridwan mengingatkan agar seluruh proses manasik dijalankan dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan. Dalam perspektif teologi, kesempurnaan ibadah sangat ditentukan oleh niat yang tulus, dan balasan bagi haji yang mabrur adalah surga,”ungkapnya.
Ungkapan Syukur dan Dukungan Pimpinan Daerah
Perwakilan jamaah, Sumekto Hendro Kustanto, menyampaikan rasa syukur atas bimbingan yang telah diberikan. Ia juga memohon doa restu serta menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh hadirin sebagai bentuk kesiapan spiritual.
“Ketua PDM Wonosobo, turut mendoakan agar seluruh jamaah diberikan kelancaran dalam menjalankan rukun, wajib, dan sunnah haji, sekaligus mengapresiasi semua pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut,”ujar Bambang Wen.
Pesan Moral dan Keseimbangan Relasi Spiritual
Bupati Wonosobo, H. Afif Nur Hidayat, mengapresiasi konsistensi KBIHU Gema Arofah dalam membina jamaah. Ia menekankan pentingnya kualitas jamaah yang mandiri, sehat, serta mampu menjalankan ibadah sesuai tuntunan.
“Pentingnya menjaga keseimbangan antara hubungan dengan Allah (hablum minallah) dan hubungan antar sesama manusia (hablum minannas) sebagai bagian dari kesempurnaan ibadah,”tegas bupati Wonosobo.
Refleksi Kritis tentang Makna Haji di Era Modern
Dalam tausiyahnya, Ketua PP Muhammadiyah, H. Agus Taufiqurrahman, menyampaikan refleksi kritis bahwa besarnya jumlah jamaah haji Indonesia belum sepenuhnya diiringi dengan peningkatan kualitas moral masyarakat.
“Haji memerlukan kesiapan takwa, keikhlasan, serta kesadaran bahwa penilaian amal sepenuhnya berada di sisi Allah, bukan manusia,”Ujar Taufikurahman dalam tausiyahnya.
Indikator Haji Mabrur dan Perspektif Ilmiah
“Lebih lanjut Taufikurahman merumuskan enam indikator haji mabrur, yaitu keikhlasan, kesesuaian dengan tuntunan Rasulullah, kesabaran, menjaga lisan, menebarkan kedamaian, serta gemar menolong dan bersedekah,”ungkapnya.
Dalam perspektif ilmiah, penelitian psikologi sosial menunjukkan bahwa hubungan sosial yang baik, interaksi langsung, serta rendahnya stres berkontribusi terhadap kesehatan dan umur panjang.
Haji sebagai Transformasi Sosial dan Kesehatan Holistik
Dalam konteks ibadah haji, nilai-nilai tersebut relevan karena haji tidak hanya membentuk kesalehan spiritual, tetapi juga memperkuat empati, relasi sosial, serta keseimbangan emosional.
Jamaah yang mampu menjaga harmoni sosial dan menghindari konflik memiliki peluang lebih besar untuk meraih kemabruran sekaligus kualitas hidup yang lebih sehat.
Kemabruran sebagai Proses Berkelanjutan
Oleh karena itu, pembinaan berkelanjutan melalui silaturahmi dan pengajian alumni menjadi sangat penting. Kemabruran haji bukanlah status yang berhenti setelah kembali dari Tanah Suci, melainkan proses yang harus terus dijaga dalam kehidupan sehari-hari, contohnya silaturahmi.
Pada akhirnya, haji mabrur tercermin dari perubahan nyata dalam perilaku, seperti kejujuran, kepedulian, dan kontribusi positif bagi masyarakat sebagai wujud transformasi akhlak dan sosial. (ia/wp)