Relasi Marshall McLuhan dan Wartawan Multiplatform

Ilustrasi Jurnalisme Multiplatform (Dok : Unsplash)

WARTAPERWIRA.COM, Minggu (25/1) – Perkembangan peradaban manusia selalu ditandai oleh perubahan cara manusia berkomunikasi. Di era digital hari ini, perubahan itu mencapai fase yang paling radikal, ketika teknologi komunikasi berbasis internet tidak hanya mengubah medium penyampaian pesan, tetapi juga mengonstruksi ulang cara manusia berpikir, merasakan, dan bertindak. Dampak paling nyata dari perubahan ini salah satunya dialami oleh profesi Wartawan.

Kita tentu masih mengingat, hingga pertengahan 1980-an di Indonesia, kerja jurnalistik masih berjalan dalam sekat-sekat media yang tegas. Surat kabar, majalah, radio, dan televisi berdiri pada ekosistemnya masing-masing. Publik menunggu informasi dari harian cetak keesokan hari, mendengar siaran pandangan mata pertandingan Persib Bandung melalui RRI, atau menyaksikan tayangan visual peristiwa nasional lewat TVRI.

Kala itu, variasi informasi memang sudah ada, namun medium menentukan ritme, bentuk, dan waktu konsumsi berita. Wartawanpun bekerja sesuai watak medianya: wartawan surat kabar, wartawan radio, dan wartawan televisi. Keterbatasan jangkauan distribusi media menjadi tantangan, tetapi sekaligus memberi ruang bagi kedalaman kerja jurnalistik.

Memasuki abad ke-21, batas-batas itu runtuh. Media tidak lagi berdiri sendiri, melainkan berkonvergensi dalam satu sistem digital yang multifungsi. Surat kabar bertransformasi menjadi media daring, radio dan televisi hidup berdampingan dengan podcast, YouTube, dan media sosial. Grant dan Wilkinson (2010) menegaskan bahwa konvergensi media bukan sekadar memperluas pilihan konten, tetapi mengubah cara produksi berita menjadi kolaboratif dan terintegrasi secara digital.

Website, TikTok, Instagram, YouTube, Facebook, X, hingga podcast kini menjadi kanal utama media arus utama. Konsekuensinya tidak sederhana perubahan ini bukan hanya perubahan teknologi, melainkan perubahan cara kerja dan cara berpikir wartawan.

Hari ini, seorang wartawan tidak lagi cukup hanya sebagai peliput dan penulis. Ia dituntut menjadi produser konten, narator, editor visual, bahkan pengelola distribusi informasi. Satu peristiwa harus diolah menjadi banyak format: teks panjang di website, potongan visual di media sosial, narasi lisan di podcast, hingga visual data dalam infografis. Di titik inilah, konsep pemikiran Marshall McLuhan menemukan relevansinya kembali.

McLuhan menyatakan bahwa “the medium is the message”. Artinya, pesan tidak pernah netral, ia dibentuk oleh medium yang menyampaikannya. Cara publik memahami sebuah peristiwa tidak hanya ditentukan oleh apa yang disampaikan, tetapi oleh bagaimana dan melalui medium apa pesan itu hadir. Berita yang sama akan melahirkan makna yang berbeda ketika disajikan sebagai artikel mendalam, video pendek TikTok, atau infografis media sosial.

Pendapat ini sejalan dengan pemikiran Jean Baudrillard  (2008) yang melihat media bukan lagi sekadar alat, melainkan kekuatan yang membentuk realitas sosial. Kita hidup dalam era ketika kecepatan, visualisasi, dan fragmentasi pesan kerap mengalahkan kedalaman dan konteks. Di sinilah tantangan serius jurnalisme multiplatform muncul.

Konvergensi media memang membuka peluang besar, tetapi juga menyimpan risiko. Tuntutan kecepatan dan multiplatform berpotensi menyeret wartawan menjadi pekerja serba bisa yang kelelahan, sekaligus mengancam kualitas verifikasi, kedalaman analisis, dan etika jurnalistik. wartawan bisa terjebak dalam logika algoritma, bukan lagi logika kepentingan publik

Konsekuensi Wartawan Multiplatform

Karena itu, wartawan multiplatform tidak boleh hanya dipahami sebagai wartawan yang “bisa segalanya”, melainkan wartawan yang memahami cara kerja makna di setiap medium. Ia harus memiliki kapasitas sebagai wartawan naratif–storytelling untuk menyusun laporan yang utuh dan kontekstual; sebagai wartawan data untuk membaca realitas melalui angka dan fakta; serta sebagai wartawan infografis yang mampu menerjemahkan kompleksitas data menjadi visual yang bermakna.

Pada kanal website, jurnalisme naratif memberi ruang bagi kedalaman dan refleksi, sebagaimana dipraktikkan Tempo atau Kompas dalam laporan-laporan tertentu. Di media sosial, wartawan dituntut meramu pesan secara ringkas namun tetap akurat, tanpa terjebak pada sensasionalisme. Sementara dalam podcast, wartawan harus mampu menghadirkan peristiwa sebagai narasi lisan yang jernih, kritis, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Dengan demikian, jurnalisme multiplatform sejatinya bukan soal banyaknya kanal, melainkan kecakapan intelektual dan etis dalam mengelola makna lintas medium. Jika tidak, wartawan hanya akan menjadi operator konten, bukan penjaga makna publik.

Makna hakiki pemikiran Marshall Mc Luhan

Pemikiran Marshall McLuhan memberi peringatan penting ketika medium berubah, manusia pun berubah. Maka, tantangan terbesar wartawan hari ini bukan sekadar menguasai teknologi, tetapi menjaga agar perubahan medium tidak menggerus esensi jurnalisme itu sendiri yakni pencarian kebenaran, kepentingan publik, dan tanggung jawab sosial.

Di tengah derasnya arus konvergensi media, hal ini menjadi penting agar jurnalisme multiplatform tidak sekadar cepat dan ramai, dan terjebak dengan clickbait, traffic tetapi lebih penting dari itu adalah jurnalisme yang tetap bermakna dan beradab.

Redaksi Warta Perwira

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *