Pok, Pek, Prak Filosofi Sunda yang Menampar Budaya Banyak Bicara

Foto Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi masuk gorong-gorong bentuk Komunikasi Pok Pek Prak Tindakan (Dok : Channel KDM)

WARTAPERWIRA.COM , Kamis (2/4) – Di tengah riuhnya ruang publik yang dipenuhi wacana, debat, dan teori tanpa ujung, muncul kembali sebuah filosofi Budaya lokal yang sederhana namun menghentak, “Pok, Pek, Prak.” Filosofi Sunda ini kerap disampaikan oleh Dedi Mulyadi Gubernur Jawa Barat  dalam berbagai kesempatan, bukan sekadar sebagai jargon, tetapi sebagai cara pandang dalam bekerja dan berkomunikasi.

Pok, Pek, Prak Apa Maknanya?

Dalam pemaknaan sederhana, Pok berarti berkata atau menyampaikan, Pek berarti merespons atau menindaklanjuti, dan Prak berarti bertindak nyata. Tiga tahapan ini bukan hanya alur komunikasi, tetapi juga representasi integritas antara kata dan perbuatan. Komunikasi tidak berhenti pada retorika (Pok), tidak mandek di diskusi (Pek), melainkan harus berujung pada aksi konkret (Prak).

Dalam perspektif ilmu komunikasi, filosofi ini sejalan dengan konsep komunikasi transaksional yang menekankan adanya umpan balik dan efek nyata dari pesan yang disampaikan. Artinya, komunikasi yang efektif bukan sekadar dipahami, tetapi juga menghasilkan perubahan.

Senada dengan pendapat Joseph A Devito, Dalam komunikasi transaksional, makna tidak hanya dipertukarkan, tetapi dibentuk bersama dan diukur dari dampaknya terhadap perilaku.

Terkait dengan hal tersebut, dalam kerangka difusi inovasi ala Everett M. Rogers,  perubahan perilaku tidak terjadi pada tahap penyampaian pesan semata, melainkan ketika individu masuk pada fase implementasi. Pada titik inilah Prak dalam filosofi Pok, Pek, Prak menemukan relevansinya sebagai fase di mana ide tidak lagi dipahami, tetapi dijalankan.

Kritik Halus untuk Budaya Berteori

Jika ditarik ke konteks masyarakat Indonesia hari ini, filosofi Pok, Pek, Prak seperti cermin yang memantulkan realitas kita terlalu nyaman berada di tahap Pok dan Pek, namun sering enggan masuk ke Prak.

Fenomena ini tampak nyata dalam berbagai program pemerintah maupun lembaga non-pemerintah. Tidak sedikit forum bertajuk transformasi digital, pemberdayaan UMKM, hingga literasi media yang berhenti pada tahap seremoni dan dokumentasi. Rencana aksi sering kali menguap setelah laporan kegiatan selesai disusun. Bahkan dalam beberapa program pelatihan, indikator keberhasilan masih berhenti pada jumlah peserta dan sertifikat yang dibagikan, bukan pada perubahan perilaku atau dampak nyata di masyarakat.

Fenomena ini bukan tanpa sebab. Budaya akademik kita sering kali menempatkan teori sebagai tujuan akhir, bukan sebagai alat menuju aksi. Dalam banyak kasus, wacana menjadi komoditas diproduksi, diperdebatkan, tetapi jarang diwujudkan.

Sejalan dengan pemikiran Wilbur Schramm dalam komunikasi pembangunan, tantangan utama bukan hanya pada penyampaian pesan, tetapi pada bagaimana pesan tersebut mendorong tindakan sosial.

Di sinilah relevansi filosofi lokal menjadi penting. Pok, Pek, Prak mengingatkan bahwa komunikasi sejati adalah komunikasi yang bertanggung jawab, yang berani mengikat kata dengan tindakan.

Gaya Kepemimpinan yang Komunikatif-Aktif

Dalam praktiknya, Dedi Mulyadi mencoba menerjemahkan filosofi ini ke dalam gaya kepemimpinan yang langsung menyentuh masyarakat. Ia dikenal sering turun ke lapangan, berdialog langsung, dan segera mengambil tindakan. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa komunikasi publik tidak harus berjarak, ia bisa hadir secara konkret dan solutif.

Model komunikasi seperti ini mencerminkan performative communication, di mana pesan tidak hanya disampaikan melalui kata-kata, tetapi juga melalui tindakan yang dapat dilihat dan dirasakan publik. Dalam konteks ini, tindakan menjadi bagian dari pesan itu sendiri.

Menjembatani Teori dan Praktik

Tantangan ke depan bagi masyarakat terutama kalangan intelektual dan praktisi komunikasi adalah bagaimana menjadikan teori sebagai pijakan, bukan tempat berhenti. Filosofi Pok, Pek, Prak menawarkan jembatan antara dunia gagasan dan dunia tindakan.

Kita tidak kekurangan ide. Yang kita butuhkan adalah keberanian untuk mengeksekusi ide tersebut, sekecil apa pun dampaknya. Karena pada akhirnya, perubahan sosial tidak lahir dari banyaknya teori yang diucapkan, melainkan dari tindakan yang dilakukan secara konsisten.

Pok, Pek, Prak bukan sekadar ungkapan budaya, melainkan etika komunikasi yang relevan di era modern. Ia mengajarkan bahwa setiap kata harus memiliki konsekuensi, setiap diskusi harus memiliki arah, dan setiap gagasan harus menemukan bentuknya dalam tindakan.

Karena pada akhirnya, perubahan tidak lahir dari wacana, tetapi dari keberanian untuk memulai

Oleh : Agus Budiana

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *