
JAKARTA, WARTAPERWIRA.COM | Jumat (13/3) – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, akhirnya muncul pertama kali di publik melalui konferensi pers setelah sempat diisukan meninggal dunia atau mengalami luka berat akibat serangan Iran ke wilayah Israel.
Kemunculan ini sekaligus menjawab berbagai spekulasi yang beredar sebelumnya, yang menyebut dirinya meninggal dunia atau mengalami luka berat akibat serangan Iran yang menghantam sejumlah wilayah Israel, termasuk Tel Aviv.
Dikutip dari Reuters, Jumat (13/3), Netanyahu mengatakan Iran kini “tidak lagi sama” setelah berbagai serangan yang dilakukan Israel terhadap sejumlah target militer Iran. Ia menilai pasukan elit Iran, termasuk Garda Revolusi dan pasukan paramiliter Basij, telah mengalami kerugian besar.
Dalam kesempatan itu, Ia juga mengancam pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei. Ia menegaskan tidak akan memberikan jaminan keselamatan bagi pemimpin yang dianggap sebagai musuh Israel.
“Saya tidak akan mengeluarkan polis asuransi jiwa untuk pemimpin organisasi teroris mana pun,” ujar Netanyahu dalam konferensi pers tersebut.
Netanyahu juga menyatakan Israel akan terus melancarkan serangan terhadap kelompok yang didukung Iran, termasuk Hezbollah di Lebanon, yang sebelumnya melancarkan serangan ke Israel pada awal Maret.
Menurutnya, tujuan utama operasi militer Israel adalah menghilangkan ancaman yang dianggap membahayakan keberadaan negara tersebut, terutama dari program nuklir dan pengembangan rudal balistik Iran.
Ia juga menyebut Israel tengah berupaya menciptakan kondisi yang dapat mendorong rakyat Iran menggulingkan pemerintahannya sendiri. Meski demikian, Netanyahu mengakui bahwa perubahan rezim tersebut tidak dapat dipastikan.
“Kami sedang menciptakan kondisi optimal untuk menggulingkan rezim, tetapi saya tidak dapat memastikan rakyat Iran akan melakukannya. Rezim digulingkan dari dalam,” katanya.
Sementara itu, sirene peringatan serangan udara kembali berbunyi di sejumlah wilayah tengah Israel saat konferensi pers berlangsung, menandakan adanya potensi serangan rudal lanjutan dari Iran. Konflik antara Israel dan Iran yang telah berlangsung hampir dua minggu ini terus meningkatkan ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Redaksi Warta Perwira