WARTAPERWIRA.COM, Senin (16/2) – Paradoks Prabowo Subianto telah kembali menerbitkan buku digital Judulnya “Paradoks Indonesia dan Solusinya” Penerbit PT. Media Pandu Bangsa, Jakarta, 2023. Sebenarnya bukan buku baru. Buku tersebut merupakan edisi pemutakhiran buku “Paradoks Indonesia: Pandangan Strategis Prabowo Subianto” yang terbit pada 2017. Berisi tentang pikiran-pikiran strategis Prabowo Subianto guna mengentaskan persoalan yang membelit bangsa dan negara kita.
Dalam Buku Indonesia Paradoks kerap dipuji sebagai negara dengan semua syarat untuk maju: sumber daya alam melimpah, bonus demografi, dan posisi geopolitik strategis. Namun dalam Paradoks Indonesia, Prabowo Subianto justru mengajukan gugatan keras: mengapa negeri sekaya ini belum juga menjadi negara maju?
Prabowo Subianto lewat Paradoks Indonesia mengajukan satu tesis yang mudah dicerna publik: Indonesia kaya, tetapi rakyatnya belum sejahtera. Negara besar, tetapi banyak warganya tertinggal. Narasi ini cepat menyebar karena menyentuh rasa keadilan dan pada saat yang sama memancing perdebatan: apakah Prabowo sedang membongkar masalah, atau sekadar mengulang kegelisahan lama dengan kemasan baru?
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi menghantam jantung pembangunan nasional. Di sinilah Paradoks Indonesia bekerja sebagai alarm, sekaligus bahan perdebatan.
Sisi Pro – Kejujuran sebagai Awal Visi Besar: Pendukung Prabowo melihat Paradoks Indonesia sebagai titik tolak visi besar, bukan sekadar kritik. Keberanian menyebut ketimpangan, kebocoran kekayaan, dan lemahnya kedaulatan ekonomi dianggap sebagai bentuk kejujuran politik yang jarang terdengar di tengah euforia pertumbuhan.
Dalam kacamata ini, Prabowo tidak menjual mimpi kosong. Ia justru mengingatkan bahwa tanpa koreksi struktural, Indonesia bisa terjebak sebagai negara “besar tapi rapuh”. Paradoks dipakai sebagai alat kesadaran kolektif: membongkar ilusi bahwa pasar dan pertumbuhan otomatis menghadirkan keadilan.
Bagi kubu pro, ini adalah fondasi ideologis menuju Indonesia maju pembangunan yang tidak hanya cepat, tetapi juga berpihak.
Negara Kuat di Dunia yang Tidak Ramah
Visi Prabowo juga dibaca relevan dengan perubahan global. Dunia hari ini tidak lagi ramah: perang dagang, krisis pangan, konflik energi, dan proteksionisme menjadi norma baru. Dalam situasi seperti ini, pendukung Prabowo meyakini negara yang kuat dan tegas justru menjadi prasyarat kemajuan.
Negara kuat dalam tafsir ini bukan berarti otoriter, melainkan negara yang mampu: mengamankan pangan dan energi, melindungi sektor strategis, dan memastikan kekayaan nasional tidak bocor keluar.
Kedaulatan ekonomi dipandang bukan tujuan akhir, tetapi modal awal untuk industrialisasi, inovasi, dan pembangunan manusia.
Dari Sumber Daya Alam ke Nilai Tambah
Kritik bahwa Prabowo terlalu berorientasi pada sumber daya alam dijawab kubu pro dengan satu argumen: Indonesia tidak bisa melompat ke ekonomi digital tanpa fondasi yang kokoh. Penguasaan sumber daya strategis dianggap perlu agar Indonesia tidak menjadi pasar abadi bagi produk dan teknologi asing.
Dalam visi ini, Paradoks Indonesia justru mengingatkan bahwa tanpa kendali atas basis ekonomi, mimpi inovasi hanya akan menjadi slogan.
Sisi Kontra – Kuat dalam Kritik, Lemah dalam Detail
Namun kritik tidak kecil. Kelompok kontra menilai Paradoks Indonesia lebih kuat sebagai narasi politik dibanding peta jalan kebijakan. Masalahnya jelas, tetapi solusinya sering terdengar umum.
Pertanyaan yang kerap muncul: bagaimana memastikan negara yang lebih kuat tidak berubah menjadi birokrasi yang lebih besar dan lamban? Bagaimana menjamin nasionalisme ekonomi tidak melahirkan oligarki baru?
Kritikus juga menilai tantangan negara maju hari ini bukan hanya soal SDA, melainkan kualitas institusi, pendidikan, inovasi, dan hukum. Tanpa reformasi institusional yang jelas, negara kuat bisa menjadi negara yang bising tapi tidak efektif.
Bagaimana melihat Titik Temu Paradoks Harus Diakhiri, Bukan Dirayakan
Di sinilah Paradoks Indonesia seharusnya ditempatkan: bukan kitab suci, melainkan bahan uji arah pembangunan. Paradoks berguna sebagai alarm, tetapi harus dilanjutkan dengan desain negara yang bekerja bukan sekadar berdaulat secara simbolik.
Indonesia maju tidak diukur dari seberapa keras melawan asing, melainkan dari: birokrasi yang profesional, hukum yang adil dan dipercaya, pendidikan yang menyiapkan masa depan,serta ekonomi yang memberi nilai tambah bagi rakyat.
Sebagai penutup, Sisi paling visioner dari pemikiran Prabowo adalah peringatannya: Indonesia bisa gagal jika merasa sudah aman. Paradoks Indonesia memaksa bangsa ini bercermin dan cermin itu tidak selalu menyenangkan.
Kini tantangannya sederhana sekaligus berat:apakah paradoks itu akan terus diulang sebagai pidato, atau diakhiri melalui reformasi nyata?
Indonesia tidak kekurangan kritik. Yang dibutuhkan adalah keberanian mengubah sistem meski mahal secara politik dan tidak selalu populer. Di situlah ujian sejati menuju Indonesia maju dimulai. Dari suatu Kesadaran ke arah Keberanian Melangkah.
* Penulis: Tonny Rivani Wartawan Warta Perwira, dalam proses penyusunannya mengacu pada prinsip jurnalisme etis dan keadilan sosial, dengan latar pengalaman profesional sebagai anggota dan alumni program Thomson Foundation (Inggris) serta anggota Hostwriter, jaringan jurnalis lintas negara.