Media Massa Lokal Ditengah Mengakarnya Kapitalisme

Ilustrasi Media masa lokal - Pers Lokal (Dok : istock)

WARTAPERWIRA.COM, Minggu (18/1)-Berita-berita banjir, longsor kegiatan kepemudaan, kegiatan desa-kelurahan selintas adalah informasi-informasi pemberitaan  biasa yang sering kita konsumsi sebagai informasi Media massa  keseharian. Dan kita membutuhkan informasi berita untuk kepentingan hidup kita termasuk masyarakat lainnya pada umumnya.

Ragam informasi berita tersebut, bagi kita sudah maklum karena seperti biasanya didapatkan dari media massa besar dan sudah kita kenal yang sering hadir dihadapan kita melalui proses jurnalisme nasional sebut saja : Kompas, Tempo,  Jawa pos, Liputan6, CNN. Sepertinya benak koleksi wawasan pengetahuan kita akan kosong tanpa kehadiran mereka setiap harinya

Namun apabila kita jeli dan cermat sebenarnya informasi-informasi berita yang kita peroleh kebanyakan dari daerah. Tentunya hal ini memberikan gambaran dan kejelasan pada kita bahwa, di balik hiruk pikuknya media massa besar terdapat media massa lokal dalam kesenyapan mereka menjalankan tugas fungsi jurnalisme daerah, sebagai kontrol kekuasaan pemerintah daerah, membangun pilar demokrasi dan mendorong partisipasi lokal serta literasi media pada masyarakat.

Hal tersebut sesuai dengan pandangan yusuf (2011) Media lokal merupakan media yang dikelola, terbit atau beroperasi di daerah. Dalam hal ini, media lokal memiliki kantor yang berlokasi di suatu daerah tertentu dengan mayoritas berita yang dimuat mengenai daerah tersebut karena aspek kedekatan

Pandangan tersebut memberikan pemahaman pada kita bahwa, media lokal adalah media representasinya masyarakat setempat, untuk senantiasa menghadirkan ragam informasi mengenai segala hal yang terkait dengan wilayahnya.

Namun keberadaan mereka seakan tenggelam dengan kehadiran media massa besar nasional yang mampu melampaui cakupan liputan pemberitaannya sampai kepelosok-pelosok desa. Tentunya hal ini merupakan persoalan sekaligus tantangan bagi media lokal untuk mempertahankan keberadaannya sebagai media lokal yang dekat dengan masyarakat setempat.

Persoalannya dan tantangan bagi media massa lokal harus mampu bersaing dengan media besar dalam fungsi informasi. Dimana media besar  mampunyai jaringan sampai ke pelosok-pelosok desa, salah satu kekuatannya mampu memanfaatkan keunggulan teknologi digital dengan kemampuan multiplatform yang dimilikinya.

Untuk mensikapi kondisi tersebut, tidaklah mudah bagi media-media lokal yang masih dalam keterbatasan untuk tetap konsisten menjalankan fungsi media. Modal, sumber daya manusia, alih teknologi digital menjadi persoalan utama yang harus dihadapi oleh media lokal. Ada sebagian  yang tidak mampu untuk melanjutkan keberadaannya, ada juga sebagian yang merelakan diri untuk merger atau diakusisi oleh media besar yang notabene kuat dalam permodalan.

Beberapa media lokal yang masih bertahan sampai hari ini, Galamedianews cakupan Bandung Raya, Surabaya Pagi cakupan Surabaya, Malang Post cakupan Malang Raya.

Media massa lokal konsisten di ranah daerah

Dalam lanskap sistem jurnalisme yang menjadi dominasi media massa besar, media lokal akan kesulitan ketika dalam fungsi informasinya masuk pada ranah-nasional. Kecuali sudah menjadi bagian dari media massa besar.

Tetap konsisten dalam fungsi informasi liputan maupun tulisan-tulisan jurnalistiknya memprioritaskan keunggulan lokal :  liputan desa, kecamatan tentang bencana banjir, longsor, prestasi komunitas, kemajuan UMKM dan tokoh-tokoh masyarakat lokal. Dalam liputan investigasi masuk pada ranah-ranah kebijakan pemerintah setempat beberapa diantaranya tentang APBD, program Pembangunan desa.

Tetap ajeg pada rambu-rambu pers, UU no 40 tahun 1999, kode etik jurnalistik, pedoman media siber. Dengan mengedepankan keterbukaaan dan keberimbangan pada masyarakat setempat melalui verifikasi ketat, memberi ruang hak jawab dan hak koreksi. Dan mengedepankan aspek jurnalisme solusi dalam setiap liputannya. Hal ini dilakukan dalam rangka membangun dan meneguhkan kredibilitas sebagai media lokal di wilayahnya,

Sajian konten berbeda dengan media massa besar dalam karya jurnalistik yang ditampilkan fokus pada pandangan, opini tokoh-tokoh setempat (pejabat publik, tokoh masyarakat, akademisi) potensi dan kondisi alam maupun karakteristik nilai-nilai kearifan lokal yang dimiliki oleh wilayah setempat..

Hal lain yang lebih utama adalah menjaga konsistensi profesi dan nurani jurnalis, redaksi untuk senantiasa mengedepankan kepentingan masyarakat setempat dalam setiap liputan pemberitaannya.

Esensi lebih utama dari sekedar nama

Hadirnya media massa bukan hanya sekedar nama yang akan kita tampilkan pada masyarakat, terutama masyarakat lokal. Lebih dari itu niat dan tugas mulia sebagai seorang jurnalis lokal untuk senantiasa mampu menyajikan informasi-informasi berita yang mampu membukakan masyarakat akan kondisi dilingkungan lokal dalam keadaan baik maupun tidak baik-baik saja.

Kita meyakini salah satu kekuatan suatu wilayah untuk senantiasa maju dan berkembang, adalah adanya peran media massa lokal yang tiada henti untuk tetap menyajikan asupan-asupan informasi objektif, faktual, berimbang dan independen didalam mendampingi kehidupan masyarakat lokal.

Kualitas demokrasi melalui keterbukaan informasi yang disajikan oleh media massa lokal menjadi salah satu bukti bahwa, media massa lokal tidak harus selalu hadir di ranah yang lebih luas (nasional) namun di ranah lokal pun keberadaan media massa lokal tetap berarti dan bernilai bagi masyarakat dan media massa lokal bukan pelengkap, tetapi fondasi demokrasi di akar rumput.

Redaksi: WartaPerwira

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *