Liputan AI di Media, Siapa yang Sebenarnya Diuntungkan?

Ilustrasi hasil liputan berita AI di Media (Dok : Unsplash)

WARTAPERWIRA.COM, Selasa (24/3) – Gelombang pemberitaan tentang kecerdasan buatan (AI) dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan satu pola yang mengkhawatirkan, Media cenderung lebih banyak menggemakan janji dibanding menguji dampaknya.

Setiap peluncuran teknologi baru dari perusahaan seperti OpenAI atau raksasa teknologi lainnya hampir selalu diberitakan dengan nada optimistis efisiensi meningkat, produktivitas melonjak, masa depan kerja lebih mudah. Namun, pertanyaan mendasar jarang diajukan: Siapa yang sebenarnya diuntungkan dari narasi ini?

Dengan arus informasi yang deras dan tekanan digital, banyak redaksi mengandalkan materi resmi perusahaan teknologi sebagai sumber utama. Kondisi ini berpotensi menggeser media dari fungsi kritisnya, sehingga berita lebih menjadi cerminan strategi industri ketimbang pengawasan independen.

Padahal, seperti diingatkan oleh standar jurnalistik global yang dianut Reuters dan Associated Press, setiap klaim harus diuji, setiap kepentingan harus diungkap, dan setiap dampak harus ditelusuri.

Ketimpangan Suara dalam Liputan AI

Masalahnya, liputan AI hari ini terlalu elitis. Suara yang mendominasi adalah para CEO, investor, dan pengembang teknologi. Figur seperti Elon Musk kerap menjadi pusat perhatian, seolah-olah masa depan AI hanya ditentukan oleh segelintir tokoh di puncak industri.

Peluncuran ChatGPT atau integrasi AI di Tesla dan Neuralink sering diberitakan media dengan nada optimistis, sementara isu pekerja Tesla yang mengeluh tentang tekanan kerja dan keselamatan jarang diberitakan. Ini menunjukkan media cenderung menggemakan narasi Musk daripada menguji dampaknya terhadap pekerja.

Sementara itu, mereka yang paling terdampak justru jarang mendapat ruang, pekerja yang pekerjaannya terancam otomatisasi, masyarakat yang terpapar bias algoritma, hingga pengguna yang datanya menjadi bahan bakar sistem AI.

Data Statistik Chalengger, Gray & Christmas (2025) Teknologi terus memimpin dalam pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor swasta saat perusahaan melakukan restrukturisasi di tengah integrasi AI, permintaan yang melambat, dan tekanan efisiensi. Pada bulan Oktober, sektor ini mengumumkan 33.281 PHK, meningkat tajam dibandingkan 5.639 pada bulan September. Untuk sepanjang tahun ini, perusahaan teknologi telah mengumumkan 141.159 PHK, naik 17% dari 120.470 yang diumumkan pada periode yang sama di tahun 2024.

Ketiadaan perspektif ini membuat publik menerima gambaran yang timpang. AI seolah netral, padahal ia dibentuk oleh data, kepentingan, dan kekuasaan. Tanpa liputan yang kritis, media berisiko memperkuat ketimpangan yang justru seharusnya mereka awasi.

AI harus diperlakukan sebagai mitra, bukan pengganti manusia. Kita harus AI-aware. Sadar bahwa kita menggunakan AI, tapi tetap mampu mengambil jarak. Jangan sampai kita diatur oleh AI. Nezar Patria (2025).

Tantangan Literasi Teknologi di Redaksi

Lebih jauh lagi, minimnya literasi teknologi di kalangan jurnalis memperparah situasi. Banyak istilah teknis digunakan tanpa pemahaman memadai, sehingga klaim perusahaan diterima begitu saja. Dalam konteks ini, kecepatan produksi berita sering kali mengorbankan akurasi.

Jurnalisme tidak boleh kalah oleh kecepatan teknologi. Tugas utamanya tetap sama mengungkap kebenaran, memberi konteks, dan melindungi kepentingan publik. Hal ini merupakan prinsip mendasar dalam fungsi Jurnalistik sebagai salah satu agen pembaharu dan pilar keempat dalam sistem demokrasi.

Karena itu, sudah saatnya media mengubah pendekatan dalam meliput AI. Bukan lagi sekadar melaporkan apa yang baru, tetapi menelisik apa yang tersembunyi. Bukan hanya menyoroti inovasi, tetapi juga mengungkap konsekuensi.

Senada dengan hal tersebut Levina Chrestella Theodora (2023) menjelaskan, meskipun AI dapat memproses data dalam jumlah besar dan melakukan perhitungan yang rumit, AI tidak memiliki penilaian, intuisi, dan kreativitas manusia. Proses pengambilan keputusan tertentu membutuhkan pemahaman kontekstual, kecerdasan emosional, dan pertimbangan etika yang sulit ditiru oleh AI.

AI bukan sekadar cerita masa depan, dampaknya sudah nyata hari ini. Media harus berhenti hanya mengulang janji perusahaan dan mulai menelisik konsekuensi yang tersembunyi. Liputan harus kritis, mengungkap kepentingan tersembunyi, dan memberi konteks bagi publik. Jurnalisme bukan sekadar melaporkan cepat, tugasnya tetap mengawal kebenaran dan melindungi kepentingan publik.

Seperti yang ditegaskan olah Nezar Patria (2025), mesin tidak punya nurani, empati, dan pengalaman hidup. Kualitas manusialah yang memungkinkan kita memahami konteks yang kompleks, merasakan dampak sebuah cerita, dan menjaga loyalitas mutlak kepada publik.

Agus Budiana. Redaksi Warta Perwira. Tulisan ini bersifat pribadi dan mencerminkan pandangan penulis mengenai media, teknologi AI dan dampaknya pada masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *