Indonesia Emas 2045: Ketika Pekerja Sosial Menjadi Penjaga Masa Depan Bangsa

WARTA PERWIRA.COM, Rabu (21/1) – Acara Konferensi Nasional Social Worker Indonesia dan Anugerah Social Worker Teladan dan Berprestasi Indonesia Tahun 2025 telah terselenggara dengan lancar pada Sabtu, 17 Januari 2026, bertempat di Politeknik Kesejahteraan Sosial (Poltekesos) Bandung. Forum nasional ini mengusung tema orasi ilmiah “Memajukan Ilmu dan Profesi Pekerjaan Sosial”, sebagai ruang refleksi sekaligus penegasan arah masa depan profesi pekerja sosial di Indonesia.

Momentum tersebut menjadi penting, bukan sekadar sebagai ajang apresiasi, tetapi sebagai titik tolak pembacaan ulang peran strategis pekerja sosial dalam konteks pembangunan nasional jangka panjang. Menyongsong agenda besar tersebut, penulis memandang perlu menyampaikan satu pandangan mendasar: profesi pekerjaan sosial bukanlah profesi baru atau pelengkap kebijakan sosial, melainkan profesi yang telah lama berkembang, matang secara keilmuan, dan teruji dalam praktik baik di Indonesia maupun di berbagai belahan dunia.

Dalam lintasan sejarah pembangunan, pekerja sosial hadir sebagai penjaga dimensi kemanusiaan mendampingi kelompok rentan, merawat kohesi sosial, serta menjembatani kebijakan negara dengan realitas masyarakat. Karena itu, ketika Indonesia menatap visi Indonesia Emas 2045, profesi pekerjaan sosial patut ditempatkan bukan di pinggiran, melainkan di jantung pembangunan manusia.

Dari pijakan inilah pandangan berikut disampaikan: Indonesia Emas 2045 hanya dapat diwujudkan bila profesi pekerjaan sosial diakui, diperkuat, dan diberi peran strategis sebagai penjaga masa depan bangsa.

Indonesia menatap tahun 2045 dengan optimisme besar. Satu abad kemerdekaan diproyeksikan sebagai tonggak lahirnya Indonesia Emas: negara berpendapatan tinggi, berdaya saing global, dan ditopang sumber daya manusia unggul. Namun di balik narasi besar tersebut, terdapat satu pertanyaan mendasar yang kerap luput dari perbincangan publik: siapa yang menjaga manusia Indonesia di tengah percepatan pembangunan dan perubahan sosial yang kian kompleks?

Pembangunan selama ini sering direduksi menjadi deret angka pertumbuhan ekonomi, investasi, infrastruktur, dan teknologi. Padahal, sejarah menunjukkan bahwa kemajuan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi, tetapi oleh ketahanan sosial, kohesi masyarakat, dan kemampuan negara merawat warganya yang paling rentan. Di sinilah profesi pekerja sosial menemukan relevansi strategisnya.

Bonus demografi yang digadang-gadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyimpan potensi paradoks. Tanpa kesiapan sosial, bonus itu bisa berubah menjadi beban demografi: pengangguran struktural, disintegrasi sosial, kriminalitas, dan meningkatnya masalah kesehatan mental. Pekerja sosial berperan sebagai early warning system bangsa membaca gejala sosial sejak dini, mencegah konflik, dan memastikan tidak ada kelompok yang tercecer dari arus kemajuan.

Dalam visi Indonesia Emas 2045, pekerja sosial seharusnya tidak diposisikan sebagai pelengkap program bantuan, melainkan sebagai arsitek pembangunan manusia. Mereka menjembatani kebijakan negara dengan realitas masyarakat akar rumput. Ketika negara merancang program besar, pekerja sosial memastikan bahwa kebijakan itu menyentuh manusia nyata dengan kebutuhan, luka sosial, dan potensi yang beragam.

Pengalaman internasional memperkuat argumen ini. Professor Malcolm Payne, pakar pekerjaan sosial asal Inggris, menyebut pekerja sosial sebagai moral agent of the state penjaga agar kebijakan publik tidak kehilangan dimensi etika dan kemanusiaan. Menurutnya, pekerjaan sosial adalah jembatan antara struktur negara dan pengalaman hidup warga sehari-hari. Negara yang mengabaikan profesi ini berisiko menciptakan pembangunan yang efisien secara ekonomi, tetapi rapuh secara sosial.

Di Amerika Serikat, Professor Michael Reisch melihat pekerja sosial sebagai aktor penting demokrasi. Mereka tidak hanya bekerja pada level individu, tetapi juga memperkuat komunitas dan terlibat dalam advokasi kebijakan publik. Dalam konteks masyarakat majemuk dan penuh ketimpangan, pekerja sosial berperan menjaga stabilitas sosial jangka panjang dengan memastikan kelompok marjinal tetap memiliki suara dalam sistem.

Sementara itu, Professor Lena Dominelli, tokoh global pekerjaan sosial dari Eropa, menekankan konsep social sustainability. Ia menegaskan bahwa pembangunan berkelanjutan mustahil tercapai tanpa investasi serius pada profesi pekerjaan sosial. Di banyak negara Eropa, pekerja sosial dilibatkan sejak tahap perencanaan kebijakan terutama pada isu migrasi, perubahan iklim, urbanisasi, dan krisis sosial agar kebijakan tidak melahirkan korban sosial baru.

Praktik di Eropa menunjukkan bahwa pekerja sosial diperlakukan sebagai profesi negara, bukan profesi pinggiran. Di negara-negara Skandinavia, Jerman, dan Belanda, pekerja sosial bekerja lintas sektor: kesehatan, pendidikan, perumahan, hingga ketenagakerjaan. Mereka memiliki standar pendidikan ketat, kode etik jelas, serta posisi strategis dalam sistem kesejahteraan. Negara memahami bahwa pencegahan masalah sosial jauh lebih murah dan lebih manusiawi dibanding mengelola krisis sosial yang telah membesar.

Di Amerika Serikat, pekerja sosial hadir dari akar rumput hingga pusat pengambilan keputusan. Mereka bekerja di sekolah, rumah sakit, lembaga peradilan, hingga lembaga federal. Banyak di antaranya terlibat langsung dalam perumusan kebijakan publik, khususnya pada isu kemiskinan struktural, kesehatan mental, dan keadilan sosial. Pengalaman ini menunjukkan bahwa pekerja sosial bukan hanya membantu individu, tetapi juga memperbaiki sistem.

Indonesia tentu memiliki konteks dan tantangan sendiri. Namun satu pelajaran penting dari pengalaman global tersebut adalah jelas: Indonesia Emas 2045 tidak akan terwujud tanpa profesi pekerjaan sosial yang kuat, profesional, dan diakui negara. Pekerja sosial harus diposisikan sebagai mitra strategis pembangunan dengan pendidikan bermutu, perlindungan profesi, kesejahteraan layak, serta ruang partisipasi dalam perumusan kebijakan publik.

Indonesia Emas 2045 sejatinya bukan semata tentang menjadi negara berpendapatan tinggi, tetapi tentang menjadi bangsa yang beradab. Bangsa yang tidak meninggalkan warganya dalam sunyi ketertinggalan. Ketika pekerja sosial diberi peran yang semestinya, merekalah penjaga masa depan bangsa mengawal manusia Indonesia agar tumbuh utuh, berdaya, dan bermartabat.

Pada akhirnya, emas sejati Indonesia 2045 bukan hanya kilau ekonomi, melainkan ketahanan sosial. Dan di balik ketahanan itu, ada pekerja sosial yang bekerja dalam senyap, menjaga harapan tetap hidup di setiap sudut negeri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *