
JAKARTA, WARTAPERWIRA.COM | Senin (30/3) – Invasi Darat disebut menjadi salah satu opsi yang tengah dipertimbangkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dalam merespons ketegangan dengan Iran. Langkah ini muncul di tengah peningkatan kesiapan militer AS di kawasan Timur Tengah.
Seorang pejabat Gedung Putih, seperti dikutip dari laporan The Washington Post, menyampaikan bahwa Pentagon sedang mempersiapkan kemungkinan invasi darat di Iran yang dapat berlangsung selama beberapa pekan. Namun, rencana tersebut masih dalam tahap pertimbangan dan belum diputuskan secara final.
Rencana Invasi Darat AS Masih Dikaji
Pejabat Amerika Serikat menyebutkan bahwa skenario yang dipersiapkan tidak mengarah pada invasi darat skala penuh. Operasi yang dirancang kemungkinan melibatkan pasukan khusus serta infanteri konvensional dalam skala terbatas.
Hingga saat ini, belum ada kepastian apakah Donald Trump akan menyetujui seluruh rencana yang diajukan Pentagon, hanya sebagian, atau bahkan menolak sepenuhnya opsi tersebut. Proses pengambilan keputusan masih berlangsung di tingkat pemerintahan.
Di sisi lain, militer AS telah mengumumkan pengerahan sekitar 3.500 personel dari 31st Marine Expeditionary Unit ke wilayah Timur Tengah. Langkah ini dilakukan di tengah situasi yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Ketegangan Diplomatik AS dan Iran
Meski ada peningkatan aktivitas militer untuk rencana invasi darat, Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa Amerika Serikat dan Iran masih membuka peluang untuk menempuh jalur diplomasi. Ia menyebut adanya sinyal positif dari Teheran terkait kemungkinan perundingan.
Namun, pernyataan tersebut dibantah oleh pihak Iran yang menegaskan belum ada kesepakatan untuk kembali berunding dengan Amerika Serikat. Perbedaan posisi ini memperlihatkan bahwa jalur diplomatik masih menghadapi tantangan.
Dalam laporan Al Jazeera, Trump juga menyerukan agar Iran menerima kondisi yang ada dan memperingatkan konsekuensi serius jika negara tersebut terus memblokir Selat Hormuz. Pernyataan tersebut menambah dinamika ketegangan di kawasan.
Peta Kekuatan Iran vs Militer AS
Dari sisi kekuatan militer, Amerika Serikat dikenal memiliki salah satu angkatan darat paling kuat dan modern di dunia. Angkatan Darat AS memiliki lebih dari 450.000 personel aktif, didukung oleh sekitar 325.000 anggota Garda Nasional dan 175.000 pasukan cadangan.
Kekuatan tersebut diperkuat dengan berbagai peralatan tempur modern, termasuk ribuan tank, kendaraan lapis baja, serta sistem artileri canggih. Teknologi militer yang dimiliki juga menjadi faktor penting dalam mendukung operasi di berbagai wilayah.
“Karena pengeluaran pertahanan AS tiga kali lebih besar daripada pesaing terdekat Amerika Serikat, China, dan mencakup sekitar sepertiga dari seluruh pengeluaran militer global.”
Sumber: Brookings Institution
Sementara itu, Iran juga memiliki kekuatan militer yang signifikan, terutama dari sisi jumlah personel. Negara tersebut diperkirakan memiliki sekitar 610.000 personel aktif yang terdiri dari berbagai cabang militer.
Kekuatan tersebut mencakup sekitar 350.000 pasukan angkatan darat reguler dan sekitar 190.000 anggota Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), yang memiliki peran penting dalam pengembangan rudal, drone, dan operasi regional.
Selain itu, data dari Anadolu Agency menyebutkan Iran juga memiliki ribuan personel di angkatan laut, angkatan udara, serta unit pertahanan udara. Pasukan paramiliter dan gendarmerie turut memperkuat struktur pertahanan negara tersebut.
Iran juga memiliki sekitar 350.000 pasukan cadangan yang terdiri dari veteran dan sukarelawan. Berdasarkan indeks Global Firepower, Iran termasuk dalam 20 besar kekuatan militer dunia dari segi personel, peralatan, dan kemampuan logistik.
Dinamika Kawasan Masih Berkembang
Situasi antara Amerika Serikat dan Iran saat ini masih terus berkembang, baik dari sisi militer maupun diplomasi. Opsi invasi darat menjadi salah satu kemungkinan yang dipertimbangkan, meski belum ada keputusan resmi.
Ke depan, perkembangan kebijakan dari pemerintah AS serta respons Iran akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah hubungan kedua negara. Masyarakat internasional pun terus memantau situasi ini mengingat dampaknya terhadap stabilitas kawasan global. (dd/wp)