Foto : Muhammadiyah salah satu Ormas terbesar di Indonesia sebagai gerakan berkemajuan. (ilham/wartaperwira.com)

Foto : Muhammadiyah salah satu Ormas terbesar di Indonesia sebagai gerakan berkemajuan. (ilham/wartaperwira.com)

WARTA PERWIRA.COM,Selasa (01/4)-Muhammadiyah selama ini dikenal sebagai gerakan Islam yang memiliki kekuatan besar dalam bidang amal usaha. Berbagai lembaga pendidikan tumbuh pesat, layanan kesehatan berjalan profesional, dan aktivitas sosial terus berkembang secara konsisten. Namun, di balik geliat amal yang begitu masif, muncul kegelisahan yang tidak bisa diabaikan, yakni semakin berkurangnya partisipasi dalam ruang-ruang pengajian. Fenomena ini tidak sekadar mencerminkan penurunan kehadiran secara fisik, tetapi juga menjadi indikator adanya kekosongan dalam pemenuhan kebutuhan ilmu keagamaan di tengah tingginya aktivitas amal.

Pengajian sebagai Basis Ideologis yang Mulai Melemah

Secara fundamental, pengajian merupakan pusat pembentukan ideologi Muhammadiyah. Di dalamnya ditanamkan nilai-nilai keislaman yang autentik, rasional, dan progresif. Ketika pengajian mulai ditinggalkan baik karena alasan kesibukan, kelelahan, maupun perasaan cukup dalam memahami agama yang terjadi sejatinya bukan efisiensi, melainkan degradasi kesadaran intelektual. Amal yang tidak diiringi penguatan ilmu berpotensi kehilangan orientasi serta menjauh dari semangat tajdid yang menjadi ciri utama Muhammadiyah.

Ironi muncul ketika sebagian warga lebih antusias menghadiri forum rapat, kegiatan seremonial, atau agenda struktural dibandingkan mengikuti pengajian. Padahal, tanpa fondasi ilmu, amal dapat berubah menjadi aktivitas rutin yang minim makna, bahkan berpotensi menyimpang dari nilai dasar perjuangan. Sejak awal, Muhammadiyah tidak didirikan semata sebagai organisasi kerja, melainkan sebagai gerakan dakwah dan pembaruan yang berlandaskan ilmu pengetahuan.

Dampak Minimnya Pengajian terhadap Kualitas Pemahaman

Menurunnya minat terhadap pengajian berdampak langsung pada kualitas pemahaman keagamaan warga. Hal ini terlihat dari meningkatnya kerentanan terhadap informasi keagamaan yang instan, seperti potongan ceramah di media sosial atau narasi yang tidak sejalan dengan manhaj Muhammadiyah. Ketika ruang belajar yang sistematis ditinggalkan, maka sumber-sumber tidak terverifikasi justru mengambil alih peran pembentukan pemahaman, bahkan berpotensi menimbulkan distorsi nilai wasathiyah.

Kelangkaan asupan ilmu berisiko melahirkan generasi yang aktif secara struktural, namun lemah dalam aspek ideologis. Mereka terlibat dalam berbagai kegiatan organisasi, tetapi tidak memiliki kedalaman argumentasi keislaman. Aktivitas menjadi dominan, sementara refleksi dan pemaknaan semakin berkurang. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menggeser karakter Muhammadiyah dari gerakan pencerahan menjadi sekadar pengelola amal usaha.

Upaya menghidupkan kembali pengajian perlu ditempatkan sebagai agenda strategis, bukan sekadar formalitas organisasi. Pendekatan yang digunakan harus adaptif, dialogis serta relevan dengan realitas kehidupan warga tanpa mengurangi kedalaman substansi keilmuan. Lebih dari itu, penting untuk menumbuhkan kesadaran bahwa pengajian bukan aktivitas tambahan, melainkan kebutuhan mendasar dalam menjaga integritas ideologis dan spiritual.

Relasi Tubuh dan Ruh Muhammadiyah

Amal usaha dapat diibaratkan sebagai tubuh Muhammadiyah, sedangkan pengajian adalah ruh yang menghidupkannya. Tanpa ruh, tubuh hanya bergerak secara mekanis tanpa makna. Keberlangsungan Muhammadiyah tidak ditentukan oleh banyaknya aktivitas, tetapi oleh keberlanjutan ilmu yang mengarahkan setiap amal. Oleh karena itu, keseimbangan antara amal dan ilmu menjadi kunci utama dalam menjaga eksistensi gerakan.

Di lingkungan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), pengajian sering kali ditempatkan sebagai bagian dari indikator administratif, seperti penilaian kinerja atau kewajiban struktural. Tidak sedikit tenaga pendidik, karyawan, maupun tenaga kesehatan yang mengikuti pengajian lebih karena tuntutan formal daripada kesadaran personal. Akibatnya, kehadiran cenderung bersifat simbolik, dengan orientasi pada absensi, sementara proses internalisasi nilai berjalan kurang optimal. Pengajian pun berisiko kehilangan esensi sebagai ruang transformasi intelektual dan spiritual.

Krisis Kesadaran dan Ketergantungan Struktural

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kesadaran ideologis belum sepenuhnya tumbuh sebagai kebutuhan individu, melainkan masih bergantung pada dorongan struktural. Ketika pengajian hanya berjalan karena instruksi, maka keberlangsungannya menjadi rentan.

Padahal, kekuatan Muhammadiyah sejak awal terletak pada kesadaran kolektif untuk terus belajar dan melakukan pembaruan. Tanpa kesadaran tersebut, pengajian hanya menghasilkan kehadiran fisik, bukan kehadiran intelektual dan spiritual yang mampu menghidupkan ruh persyarikatan.(ia/wp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *