Di Bawah Bayang Asap dan Legenda: Memandangi Tangkuban Perahu dari Jendela Perjalanan

WARTAPERWIRA. COM, Sabtu (14/2) – Pagi itu, langit Subang bersih seperti baru saja dicuci embun. Saya menyalakan motor dengan perasaan yang sulit dijelaskan campuran rindu, lelah, dan keinginan untuk pulang. Tangki bensin sudah penuh, tas berisi pakaian dan beberapa buku kecil terikat rapi di jok belakang. Kepada tetangga saya sempat berujar, “Beberapa hari ke Bandung dulu, ingin menghirup udara lama.”

Bandung bukan sekadar kota. Ia adalah masa kecil yang belum selesai, lorong-lorong kenangan dari bangku sekolah hingga ruang kuliah. Maka perjalanan ini bukan sekadar perpindahan jarak, melainkan perjalanan kembali.

Jarum jam mendekati pukul sepuluh ketika roda mulai berputar meninggalkan Subang. Matahari belum terlalu tinggi. Udara masih ramah. Jalanan menanjak perlahan, membawa saya mendekati siluet yang sejak kecil begitu akrab di mata: Gunung Tangkuban Perahu.

Dari kejauhan, ia tampak seperti perahu raksasa yang ditelungkupkan. Garis punggungnya tegas membelah cakrawala. Asap tipis mengepul malas dari kawahnya, seperti napas tua yang tak pernah benar-benar berhenti. Dalam diam, legenda Sangkuriang serasa ikut berjalan di samping saya dongeng yang dulu diceritakan dengan suara lirih sebelum tidur.

Di satu tikungan, saya menepi. Mesin dimatikan. Sunyi segera mengambil alih. Hanya suara angin dan sesekali deru kendaraan yang melintas. Dari titik itu, hamparan kebun teh menggelar warna hijau yang tak putus, seolah permadani alam yang ditata tanpa cela. Udara membawa aroma tanah basah dan samar belerang.

Semakin mendekat ke kawasan puncak, lanskap berubah lebih dramatis. Kawah-kawahnya membuka diri seperti luka purba yang justru memikat. Di antara yang paling dikenal adalah Kawah Ratu, dengan kaldera luas dan batuan kelabu yang kontras dengan langit biru. Di sisi lain, Kawah Domas menyuguhkan uap belerang yang lebih pekat, memberi kesan mistis sekaligus mengingatkan bahwa gunung ini masih hidup.

Bagi para pelintas dari arah Subang menuju Lembang, perjalanan ini selalu menawarkan dua hal: keindahan dan kesabaran. Keindahan dari perbukitan yang menghampar, dan kesabaran menghadapi kepadatan kendaraan terutama di akhir pekan. Mobil-mobil wisatawan berderet, sepeda motor saling menyelinap, klakson sesekali bersahutan. Namun di tengah keramaian itu, Tangkuban Perahu tetap berdiri anggun, tak tergesa.

Waktu terbaik menikmati gunung ini memang pagi hari, sebelum kabut turun perlahan seperti tirai panggung. Saat matahari masih jinak, setiap lekuk perahu terbalik itu terlihat jelas. Setiap kepulan asap tampak lebih puitis daripada mengancam.

Selepas rehat singkat, saya kembali menghidupkan mesin. Perjalanan menurun menuju Lembang terasa lebih riuh. Warung-warung, penjual stroberi, dan deretan kendaraan wisata menandai denyut ekonomi yang hidup dari pesona alam. Dari sana, jalan terus mengalir menuju Kota Bandung kota yang sejak tadi menunggu di ujung rindu.

Ketika akhirnya tiba di rumah, anak dan saudara menyambut dengan senyum yang hangat. Lelah perjalanan seketika mencair. Saya sadar, perjalanan tadi bukan sekadar melintasi gunung dan tanjakan. Ia adalah cara untuk menata ulang diri di bawah bayang asap dan legenda yang tak pernah benar-benar padam.

Dan setiap kali memandangi Tangkuban Perahu dari jendela perjalanan, saya selalu merasa sedang membaca ulang halaman lama kehidupan yang meski telah berlalu, tak pernah kehilangan maknanya.

Penulis: Tonny Rivani Wartawan Warta Perwira, dalam proses penyusunan nya mengacu pada prinsip jurnalisme etis dan keadilan sosial, dengan latar pengalaman profesional sebagai anggota dan alumni program Thomson Foundation (Inggris) serta anggota Hostwriter, jaringan jurnalis lintas negara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *