Biaya Operasi Militer AS terhadap Iran Diperkirakan Mencapai Ratusan Miliar Dolar
Foto: USS Gerald R. Ford (CVN-78) (di depan) berdampingan dengan USS Harry S. Truman (CVN-75) pada tahun 2020. (sumber: wikipedia)

WARTAPERWIRA.COM, Jumat (6/3) – Sejumlah laporan menyebutkan bahwa operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran berpotensi menimbulkan biaya yang sangat besar. Nilai total pengeluaran tersebut diperkirakan dapat mencapai puluhan hingga ratusan miliar dolar Amerika Serikat.

Media bisnis Forbes melaporkan bahwa perhitungan total biaya perang masih sulit dilakukan secara pasti. Hal ini disebabkan skala operasi militer dan jenis persenjataan yang digunakan belum sepenuhnya diungkap ke publik.

Namun demikian, sejumlah komponen biaya dapat diperkirakan berdasarkan penggunaan alutsista dan pengerahan kekuatan militer.

Salah satu pengeluaran terbesar berasal dari pengerahan kapal induk. Dua kapal induk Amerika Serikat yang ditempatkan di kawasan Timur Tengah diperkirakan membutuhkan biaya operasional sekitar 13 juta dolar AS per hari. Sementara kapal induk modern seperti USS Gerald R. Ford dapat menghabiskan lebih dari 11 juta dolar AS per hari untuk operasional.

Selain armada laut, penggunaan persenjataan modern juga menjadi faktor utama dalam peningkatan biaya operasi militer. Laporan menyebutkan sekitar 1.250 drone kamikaze digunakan dalam operasi tersebut dengan nilai total sekitar 43,8 juta dolar AS, atau sekitar 35.000 dolar AS per unit.

Pesawat pengebom siluman B-2 Spirit juga dilaporkan terlibat dalam operasi militer. Pesawat ini memiliki biaya operasional sekitar 130.000 hingga 150.000 dolar AS per jam terbang.

Serangan presisi juga menggunakan rudal jelajah Tomahawk yang diperkirakan bernilai sekitar 2 juta dolar AS per unit. Sementara itu, sistem pertahanan anti-rudal THAAD yang digunakan untuk mencegat serangan balistik memiliki harga sekitar 12,8 juta dolar AS untuk setiap interceptor.

Direktur Penn Wharton Budget Model, Kent Smetters, memperkirakan biaya langsung yang harus ditanggung pembayar pajak Amerika Serikat berada pada kisaran 40 hingga 95 miliar dolar AS.

Selain biaya militer, dampak ekonomi dari konflik tersebut juga diperkirakan cukup besar. Gangguan terhadap perdagangan internasional dan pasar energi berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi global antara 50 hingga 210 miliar dolar AS.

Jika menggunakan estimasi tertinggi, total dampak ekonomi konflik dapat mencapai sekitar 305 miliar dolar AS, atau setara dengan lebih dari Rp3.500 triliun.

Media internasional Al Jazeera melaporkan bahwa dalam 24 jam pertama operasi militer yang disebut sebagai “Operation Epic Fury”, pengeluaran Amerika Serikat diperkirakan mencapai sekitar 779 juta dolar AS. Biaya tambahan untuk persiapan sebelum operasi, termasuk pengerahan kapal perang dan pemindahan pesawat tempur, diperkirakan sekitar 630 juta dolar AS.

Sementara itu, sebuah situs pelacak biaya konflik bernama Iran Cost Ticker memperkirakan pengeluaran militer Amerika Serikat dalam operasi terhadap Iran telah mencapai sekitar 2,3 miliar dolar AS atau sekitar Rp38,8 triliun. Angka tersebut dilaporkan terus bertambah seiring berlangsungnya operasi militer.

Pengamat keamanan internasional dari Stimson Center, Christopher Preble, menilai bahwa tantangan dalam konflik ini tidak hanya terkait biaya, tetapi juga ketersediaan persenjataan. Menurutnya, sistem pertahanan seperti misil Patriot atau SM-6 tidak dapat diproduksi dalam jumlah besar dalam waktu singkat.

Di luar aspek militer, konflik ini juga dinilai berpotensi memengaruhi perekonomian global. Harga energi seperti minyak dan gas dilaporkan mulai mengalami kenaikan, sementara pasar saham di sejumlah negara sempat melemah.

Laporan korban juga mulai muncul dari kedua pihak. Otoritas Iran melaporkan lebih dari 500 korban jiwa, sementara militer Amerika Serikat menyebut enam personelnya tewas dalam operasi tersebut.

Para analis menilai bahwa apabila eskalasi konflik terus berlanjut, biaya yang harus dikeluarkan berpotensi meningkat signifikan, baik dari sisi anggaran militer maupun dampaknya terhadap ekonomi global. (dd/wp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *