Bagaimana Media Sosial Mendikte Opini Publik

Ilustrasi Media Sosial Facebook ( Dok : Unsplah)

WARTAPERWIRA.COM – Sabtu (16/1) Pergeseran paradigma komunikasi media massa satu arah TVRI sebagian radio siaran menjadi interaksi dua arah, melalui Media sosial tentunya memberikan pemahaman pada kita dalam bersikap kaitannya dengan kehidupan sosial.

Statistik GoodStats 11/12/2025 konsumsi media di Indonesia 2025 : Sebanyak 356 juta koneksi seluler aktif di Indonesia pada awal 2025, dengan angka ini setara dengan 125 persen dari total populasi. Terdapat 212 juta individu yang menggunakan internet di Indonesia pada awal 2025, dengan tingkat penetrasi internet mencapai 74,6 persen. Indonesia memiliki 143 juta identitas pengguna media sosial pada Januari 2025, yang setara dengan 50,2 persen dari total populasi.https://goodstats.id/publication/media-consumption-in-indonesia-2025-vtawp

Beberapa peristiwa  masih teringat dalam rekaman kita, Agustus tahun lalu aksi unjuk rasa tuntutan masyarakat terhadap anggota DPR akibat kesenjangan hidup yang terjadi antara masyarakat  dan anggota DPR. Terakhir beberapa hari lalu aksi unjuk rasa buruh menuntut kenaikan upah UMR, UMP dan UMSK di Jakarta dan Jawa Barat.

Dalam dua peristiwa tersebut, memperlihatkan pada kita bagaimana suatu media sosial mampu menjadi saluran efektif, melalui proses viralnya terkait kegelisahan isu-isu publik untuk di sebarkan secara masif dan di lihat, dibaca serta disikapi oleh publik secara luas atas dua peristiwa diatas.

Peristiwa ini bukan sesuatu hal yang terjadi begitu saja, tentunya kehadiran media sosial mempunyai peran yang sangat menentukan untuk memantik suatu peristiwa. Intensitas komunikasi dua arah didalam media sosial antar manusia baik secara personal maupun kelompok, menciptakan kesesuaian antara sifat media sosial dan isu-isu yang menjadi persoalan masyarakat yang selama ini tidak pernah terdengar dan tersalurkan.

Mengenai sifat media sosial Mayfield (2008) mengingatkan bahwa sifat media sosial : (Participation) mampu mendorong kontribusi dan umpan balik dari audiens secara langsung tanpa adanya perantara, (opennes) bentuknya yang terbuka dan kemudahan akses yang diberikan. (Conversation) berkomunikasi dua arah menyampaikan informasi dan mendapatkan umpan balik langsung dari audiens yang menjadi sasaran. (Community) menjadi wadah suatu perkumpulan atau komunitas karena diikat oleh kepentingan yang sama.  (Connectedness) kemudahan untuk terkoneksi dengan platform media sosial yang lainnya.

Sifat-sifat media sosial inilah dalam konteks digital saat ini sangat diperlukan oleh manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya  melalui komunikasi dalam keseharian yang setiap waktu berproses tiada henti.

Teori Agenda Setting yang digagas oleh (Mc Comb& Shaw) media yang selama ini berlaku dilingkungan media massa, Saat ini konsepnya dibalik agenda media yang selama ini di lakukan oleh media massa, sekarang agenda-agenda publik maupun hal-hal personal ditentukan oleh masyarakat sendiri atas konten-konten informasi yang beredar di ruang publik berdasarkan hasil produksi komunikasi yang disettingnya.

Selektifitas  memilah informasi Media sosial

Menyikapi riuh sesaknya informasi yang bersumber dari media sosial, terkait juga dengan pembentukan opini publik yang diciptakan didalamnya  tentunya merupakan tantangan yang harus kita hadapi dengan bijak. Walau bagaimanapun juga di era digital sekarang ini, kita tidak bisa juga menapikan membutuhkan informasi-informasi yang bersumber dari media sosial.

Keberadaan media massa dengan jurnalisme berkualitas sangat dibutuhkan, dalam membantu kita, ketika kita dijejali dengan infomasi-informasi media sosial. Tuntutan kita pada media massa adalah menampilkan informasi fakta berupa  data otentik, investigasi berbasis data untuk melawan  opini asumsi dari media sosial. Dan verifikasi mendalam serta menampilkan konteks yang seringkali hilang di media sosial.

Menghindari Echo Chamber, mengikuti media atau akun yang memiliki sudut pandang berbeda untuk mendapatkan gambaran informasi yang utuh. Melakukan Digital Detox, memberi ruang sementara pada kita untuk menghindari banjir informasi opini publik yang menerpa kita secara teratur.

Kesadaran pada ruang etika komunikasi digital, apapun yang kita terima apabila sifat isi konten informasi dari media sosial terindikasi membuat keruh suatu kondisi, kita tidak reaktif melakukan serangan balik secara frontal, kita tetap menghargai ada orang-orang dibalik akun itu yang harus kita hormati sebagai manusia. Sebaiknya kita laporkan sumber-sumber akun palsu pada pada Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Bareskrim Polri dan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).

Tanggung jawab bersama menjaga informasi Media sosial

Tergiringnya masyarakat oleh suatu opini publik yang bersumber dari media sosial yang tidak jelas, tentunya menghadirkan persoalan-persoalan baru di masyarakat dan cenderung gaduh. Hal ini  tidak diharapkan oleh kita semua. Karena akan menimbulkan suasana yang tidak kondusif dimasyarakat.

Semuanya berawal dari kedisiplinan kita dan semua pihak secara bersama  dan konsisten, untuk tetap selalu kritis dan hati-hati didalam mengkonsumsi informasi-informasi opini publik yang bersumber dari media sosial.

Kesadaran disiplin, kritis dan kehati-hatian  ini tidak harus selalu diingatkan oleh pihak lain, namun sebaliknya terbangun dari kesadaran diri yang selanjutnya  akan berproses secara komunal dan kelompok bahwa penggunaan media sosial yang sehat, baik dan benar  minimal mampu memberikan kontribusi terbaik dalam menciptakan keteduhan dan harmoni dalam kehidupan sosial. Media sosial bukan musuh demokrasi, tetapi tanpa literasi dan etika, ia bisa menjadi alat manipulasi opini publik.

Redaksi Warta Perwira

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *