WARTAPERWIRA.COM, Jumat (10/4) – Kegembiraan yang seharusnya menjadi jalan untuk mendekat, kadang justru menjelma menjadi tirai yang menutup kesadaran. Dalam hiruk-pikuk dunia, manusia sibuk mengagumi hasil tanpa sempat menundukkan kepala kepada Sang Pemberi. Padahal, setiap keberhasilan bukan sekadar buah usaha, melainkan rahmat yang dititipkan.
Di tengah gemerlap Kegembiraan, manusia kerap lupa dari mana semua bermula. Tawa mengembang, syukur terucap sekilas, namun hati perlahan menjauh dari sumber segala nikmat. Kita merayakan pencapaian, memeluk sesama dengan penuh kasih, tetapi sering lalai mengingat cinta yang paling hakiki cinta kepada Allah.
Jalaluddin Rumi pernah mengingatkan dengan kelembutan yang dalam:
“Ketika kau mencari cinta di luar dirimu, kau hanya akan menemukan bayang-bayang. Sebab cinta sejati bersemayam dalam kedekatanmu dengan-Nya.”
Puisi-puisi Rumi menuntun manusia untuk memahami bahwa cinta sejati bukan hanya kepada makhluk, tetapi kepada Sang Pencipta. Dalam kegembiraan, manusia sering berhenti pada rasa puas, tanpa melangkah lebih jauh menuju kesadaran spiritual.
Sementara itu, Socrates dengan filsafatnya yang sederhana namun tajam pernah berkata:
“Kenalilah dirimu, maka engkau akan memahami apa yang benar-benar kau butuhkan.”
Jika direnungkan, mengenal diri bukan sekadar memahami kelebihan dan kekurangan, tetapi juga menyadari keterbatasan sebagai manusia bahwa segala yang dimiliki hanyalah titipan. Dari kesadaran itu, lahirlah kerendahan hati untuk kembali mencintai Allah di atas segalanya.
Kegembiraan tidaklah salah. Keberhasilan pun bukan dosa. Namun ketika keduanya membuat hati lupa bersujud, di situlah cinta yang sejati mulai terlupakan. Kita menjadi sibuk merayakan dunia, tetapi asing dengan keheningan doa.
Cinta kepada manusia adalah indah, tetapi cinta kepada Allah adalah sumber dari segala keindahan itu. Tanpa-Nya, kasih menjadi kosong, dan bahagia hanya menjadi sementara.
Maka, di setiap tawa dan keberhasilan, semestinya ada jeda untuk mengingat. Sebab cinta yang tidak diikat dengan keimanan akan mudah hilang, sementara cinta kepada Allah akan selalu menemukan jalan pulang.
Puisi Penutup:
Cinta dalam Kegembiraan yang Terlupakan
Di puncak bahagia aku berdiri,
namun lupa siapa yang meninggikan.
Tangan terangkat meraih dunia,
tetapi tak sempat terangkat untuk berdoa.
Wahai hati, ke mana engkau berlari?
Sedang sumber cinta kau tinggalkan sendiri.
Kembalilah sebelum segalanya sunyi,
sebelum bahagia tak lagi berarti.
Oleh: Tonny Rivani