
JAKARTA, WARTAPERWIRA.COM | Kamis (9/4) โ Motor Listrik menjadi sorotan publik setelah Badan Gizi Nasional (BGN) merealisasikan pengadaan 21.801 unit kendaraan untuk mendukung Operasional Makan Bergizi Gratis dengan nilai mencapai Rp 1,22 Triliun. Kebijakan ini memicu perhatian dari parlemen dan pengamat anggaran terkait efektivitas serta transparansi penggunaan dana negara.
Pengadaan Motor Listrik untuk Operasional Program
Kepala BGN, Dadan Hindayana, mengonfirmasi bahwa ribuan motor listrik model Emmo JVX GT telah diamankan untuk mendukung operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), khususnya di wilayah terpencil. Pengadaan dilakukan melalui sistem e-purchasing sebagai bagian dari upaya mempercepat distribusi layanan program.
Menurut Dadan, pemilihan kendaraan tersebut didasarkan pada kebutuhan akses ke daerah yang sulit dijangkau kendaraan roda empat. Motor dengan spesifikasi daya 7.000 watt dan jarak tempuh hingga 140 kilometer dinilai sesuai untuk kondisi medan berat di pedesaan.
“Harga pasar motor tersebut umumnya berkisar Rp 52 juta, namun kita mendapatkan harga Rp 42 juta per unit,” ujar Kepala BGN, Dadan Hindayana.
Perbedaan Data Harga dan Sorotan Publik
Meski diklaim efisien, pengadaan ini menimbulkan Sorotan Publik karena adanya perbedaan data harga satuan. BGN menyebut harga per unit sebesar Rp 42 juta, sementara data pada laman Inaproc LKPP menunjukkan angka sekitar Rp 49,95 juta.
Perbedaan tersebut memicu pertanyaan terkait transparansi dan akurasi pengadaan. Selain itu, informasi bahwa usulan anggaran sempat mendapat penolakan dari Kementerian Keuangan turut memperkuat perhatian terhadap kebijakan ini.
Tanggapan DPR dan Pengamat Anggaran
Komisi IX DPR RI berencana memanggil pihak BGN untuk meminta penjelasan lebih lanjut. Wakil Ketua Komisi IX, Charles Honoris, menilai pentingnya memastikan prioritas program tetap berfokus pada pemenuhan gizi masyarakat.
“Kami akan memanggil BGN. Program gizi harus fokus pada perbaikan gizi anak-anak, bukan pembagian proyek,” ujar Charles Honoris.
Direktur Eksekutif Center for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi, juga menyoroti metode pengadaan yang tidak melalui tender terbuka. Menurutnya, mekanisme tersebut berpotensi membatasi pengawasan publik serta peluang mendapatkan harga yang lebih kompetitif.
“Seharusnya dilakukan tender terbuka untuk mendapatkan penawaran terbaik demi efisiensi anggaran negara,” kata Uchok.
Perspektif Pemerintah dan Proses Administrasi
Dari sisi pemerintah, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya menyampaikan bahwa usulan pengadaan tersebut pernah ditolak. Ia menekankan bahwa fokus utama program seharusnya pada penyediaan makanan, bukan belanja operasional dalam skala besar.
“Fokus utama program MBG seharusnya adalah penyediaan makanan bagi masyarakat,” ujar Purbaya Yudhi Sadewa.
Saat ini, puluhan ribu unit motor listrik tersebut belum didistribusikan karena masih dalam proses administrasi untuk dicatat sebagai Barang Milik Negara (BMN). Proses pengadaan dilakukan secara bertahap sejak Desember 2025.
Spesifikasi Kendaraan dan Kebutuhan Lapangan
Motor listrik Emmo JVX GT yang dipilih memiliki fitur pendukung operasional seperti pengisian cepat hingga 80 persen dalam waktu sekitar satu jam. Selain itu, kendaraan ini dilengkapi sistem pengereman double disk brake untuk meningkatkan keamanan saat digunakan di medan berat.
Dengan spesifikasi tersebut, kendaraan diharapkan mampu menunjang mobilitas petugas dalam menjalankan distribusi program gizi ke wilayah yang sulit dijangkau.
Ke depan, pengadaan ini masih akan menjadi perhatian berbagai pihak, terutama terkait efektivitas penggunaan anggaran serta dampaknya terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis secara menyeluruh. (cd/wp)
Sumber: Readers.id