
KUANSING-RIAU, WARTAPERWIRA.COM | Selasa (31/3 ) – Shanum Zahsy Askanah, hafizah cilik berusia delapan tahun, menerima penghargaan dari Kementerian Agama Kabupaten Kuantan Singingi setelah berprestasi di ajang Hafiz Indonesia 2026. Penampilannya di stasiun televisi RCTI membawa nama daerahnya dikenal di tingkat nasional.
Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Kepala Kemenag Kuantan Singingi, Suhelmon, dalam acara resmi yang digelar di Aula Kantor Kemenag Kuansing pada Senin (30/3). Kegiatan ini menjadi bentuk apresiasi atas dedikasi dalam menghafal Al-Qur’an sejak usia dini.
Apresiasi untuk Hafizah Cilik Berprestasi
Kemenag Kuantan Singingi memberikan penghargaan sebagai bentuk pengakuan atas pencapaian Shanum Zahsy Askanah di ajang Hafiz Indonesia 2026. Kompetisi tersebut merupakan program religi yang disiarkan oleh stasiun televisi RCTI dan dikenal secara luas di masyarakat.
Dalam sambutannya, Suhelmon menyampaikan bahwa penghargaan ini merupakan bagian dari komitmen institusinya dalam mendorong lahirnya generasi Qur’ani. Ia menilai prestasi Shanum mencerminkan hasil dari pembinaan yang konsisten dalam pendidikan keagamaan.
“Penghargaan ini menjadi bukti nyata komitmen Kemenag Kuansing dalam mendukung dan mendorong lahirnya generasi Qur’ani yang berprestasi,” ujar Suhelmon.
Ajang Hafiz Indonesia 2026 sendiri menjadi salah satu platform bagi anak-anak Indonesia untuk menunjukkan kemampuan dalam menghafal Al-Qur’an. Program ini juga berperan dalam meningkatkan minat generasi muda terhadap pendidikan agama.
Penampilan Shanum di Hadapan Hadirin
Dalam acara pemberian penghargaan, Shanum Zahsy Askanah menunjukkan kemampuannya di depan para tamu undangan. Ia diminta untuk melanjutkan potongan ayat Al-Qur’an yang dibacakan secara acak.
Dengan lancar, Shanum mampu menyambung ayat-ayat tersebut tanpa kesalahan berarti. Penampilan tersebut mendapat respons positif dan menghadirkan suasana haru di ruangan acara.
Keberhasilan ini menegaskan kapasitas Shanum sebagai hafizah cilik yang telah memiliki kemampuan hafalan yang baik di usia muda. Hal tersebut juga menjadi bukti keseriusannya dalam menekuni bidang tahfiz Al-Qur’an.
Dukungan dari Kemenag dan Masyarakat
Kepala Kemenag Kuantan Singingi menyampaikan bahwa prestasi Shanum bukan hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga kebanggaan daerah. Ia mengajak masyarakat untuk menjadikan capaian ini sebagai motivasi bersama.
“Kami sangat bangga. Ini bukan hanya kebanggaan bagi keluarga dan sekolah, tetapi juga bagi seluruh Kabupaten Kuantan Singingi,” tambah Suhelmon.
Dukungan dari berbagai pihak, termasuk keluarga, sekolah, dan lingkungan, dinilai berperan penting dalam keberhasilan Shanum. Kolaborasi ini menjadi faktor pendukung dalam membentuk generasi yang memiliki karakter religius.
Prestasi Shanum juga diharapkan dapat mendorong anak-anak lain untuk lebih mencintai Al-Qur’an serta mengembangkan potensi di bidang keagamaan.
Peran Sekolah dalam Pembinaan
Kepala Sekolah SD IT An-Najiyah Teluk Kuantan turut memberikan apresiasi atas pencapaian siswinya tersebut. Ia menyampaikan bahwa keberhasilan Shanum merupakan bagian dari implementasi nilai-nilai pendidikan yang diterapkan di sekolah.
Pendidikan berbasis Al-Qur’an yang diterapkan secara konsisten dinilai mampu membentuk karakter siswa sejak dini. Hal ini menjadi salah satu faktor yang mendukung keberhasilan Shanum dalam ajang Hafiz Indonesia 2026.
“Kami berharap Shanum tetap istiqamah dan menjadi inspirasi bagi teman-temannya di sekolah,” ujar Kepala Sekolah SD IT An-Najiyah.
Lingkungan sekolah yang mendukung pembelajaran Al-Qur’an memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan hafalan secara optimal. Pendekatan ini juga sejalan dengan upaya peningkatan kualitas pendidikan karakter.
Komitmen Pengembangan Generasi Qur’ani
Kegiatan penghargaan ini ditutup dengan komitmen Kemenag Kuantan Singingi untuk terus mendukung program keagamaan bagi anak-anak. Pembinaan terhadap calon penghafal Al-Qur’an akan terus ditingkatkan secara berkelanjutan.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya membangun karakter generasi muda melalui pendidikan spiritual. Program-program yang dirancang diharapkan mampu mencetak lebih banyak hafiz dan hafizah cilik di masa mendatang.
Selain itu, penguatan nilai-nilai keagamaan juga menjadi bagian dari pembangunan sumber daya manusia yang berintegritas. Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan nasional dalam membentuk generasi yang berakhlak dan berpengetahuan.
Prestasi Shanum Zahsy Askanah di ajang Hafiz Indonesia 2026 menjadi contoh nyata kontribusi generasi muda dalam bidang keagamaan. Dukungan dari berbagai pihak diharapkan terus berlanjut guna menciptakan lebih banyak generasi Qur’ani di Indonesia. (cd/wp)