A. Kurniawan Ulung: Perang Iran vs Amerika–Israel Bisa Mengubah Peta Geopolitik Dunia

Foto : A Kurniawan Ulung S.Sos, MA.dosen prodi Hubungan Internasional, Universitas Satya Negara Indonesia Jakarta (Dok : Warta Perwira)

JAKARTA. WARTAPERWIRA.COM, Senin (9/3) – Konstelasi kekuatan global saat ini mengalami dinamika yang semakin kompleks. Ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel tidak hanya berdampak pada stabilitas kawasan Timur Tengah, tetapi juga berpotensi mengubah lanskap geopolitik dunia.

Sejumlah negara sekutu Amerika dalam aliansi North Atlantic Treaty Organization (NATO), seperti Inggris, Perancis, dan Spanyol dilaporkan menunjukkan sikap yang lebih hati-hati dalam memberikan dukungan militer terhadap kemungkinan eskalasi konflik.

Di sisi lain, Iran mendapatkan dukungan politik dan strategis dari Russia dan China. Dalam sejumlah laporan internasional, Rusia disebut memberikan dukungan teknologi satelit yang berpotensi meningkatkan kemampuan pemantauan strategis Iran terhadap kekuatan militer Amerika dan Israel.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa konflik tersebut tidak lagi bersifat bilateral atau regional semata, melainkan telah memasuki dimensi geopolitik global.

Untuk memahami lebih jauh dinamika konflik tersebut dalam perspektif diplomasi geopolitik, Warta Perwira mewawancarai akademisi sekaligus pengamat hubungan internasional dari Universitas Satya Negara Indonesia, A. Kurniawan Ulung, S.Sos, MA di Jakarta, Senin (9/3/2026).

Akar Konflik Iran dan Amerika–Israel

Menurut Kurniawan, konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel pada dasarnya merupakan akumulasi ketegangan geopolitik yang telah berlangsung selama beberapa dekade.

Amerika Serikat dan Israel menilai bahwa program nuklir Iran berpotensi berkembang menjadi kemampuan pembuatan senjata nuklir. Bagi Israel, kondisi tersebut dipandang sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasionalnya.

“Iran sering menyampaikan sikap politik yang keras terhadap keberadaan Israel. Hal ini membuat Israel memandang Iran sebagai ancaman strategis yang serius,” ujar Kurniawan.

Ia menjelaskan bahwa Israel dalam beberapa kesempatan juga melakukan operasi militer maupun operasi intelijen untuk melemahkan kapasitas militer Iran.

Di sisi lain, Iran berupaya memperluas pengaruh geopolitiknya di kawasan Timur Tengah melalui jaringan sekutu regional. Langkah ini dinilai bertentangan dengan kepentingan strategis Amerika Serikat dan Israel di kawasan tersebut.

Diplomasi AS–Iran yang Rapuh dan Tidak efektif

Kurniawan menilai diplomasi sebenarnya pernah menghasilkan terobosan penting, namun keberlanjutannya sering kali terganggu oleh dinamika politik domestik masing-masing negara.

Salah satu contoh penting adalah kesepakatan nuklir Iran yang dikenal sebagai Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) yang ditandatangani pada tahun 2015 oleh Iran dan sejumlah negara besar, termasuk Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis.

Kesepakatan ini bertujuan membatasi program nuklir Iran dengan imbalan pencabutan sebagian sanksi ekonomi internasional.

Namun stabilitas kesepakatan tersebut terguncang ketika pemerintahan Donald Trump menarik Amerika Serikat keluar dari JCPOA pada tahun 2018.

“Setelah Amerika keluar dari perjanjian tersebut, sanksi ekonomi terhadap Iran kembali diperketat. Sebagai respons, Iran juga meningkatkan kembali aktivitas program nuklirnya,” jelasnya.

Menurut Kurniawan, situasi tersebut menunjukkan bahwa diplomasi bukan tidak pernah berhasil, tetapi ketidakstabilan komitmen politik membuat kesepakatan internasional sulit bertahan dalam jangka panjang.

Sikap Rusia dan China

Sebagai dua negara besar yang memiliki hubungan strategis dengan Iran, Rusia dan China diperkirakan akan memberikan dukungan terhadap Iran apabila konflik meningkat.

Namun Kurniawan menilai dukungan tersebut kemungkinan besar tidak akan berbentuk keterlibatan militer langsung.

“Rusia dan China umumnya berhati-hati untuk tidak terlibat dalam konfrontasi militer langsung dengan Amerika Serikat. Dukungan mereka biasanya lebih bersifat politik, diplomatik, dan ekonomi,” ujarnya.

Keterbatasan Peran Dewan Keamanan PBB

Dalam konflik yang melibatkan negara-negara besar, peran United Nations Security Council juga kerap menghadapi keterbatasan.

Menurut Kurniawan, Dewan Keamanan PBB sering mengalami kebuntuan (deadlock) karena adanya kepentingan politik negara-negara besar yang memiliki hak veto.

“Dalam banyak konflik besar, PBB lebih sering berfungsi sebagai forum diplomasi dan legitimasi normatif dibandingkan sebagai instrumen penegakan yang efektif terhadap negara-negara kuat,” jelasnya.

Dunia Menuju Sistem Multipolar

Kurniawan menilai bahwa apabila konflik terbuka antara Amerika–Israel dan Iran benar-benar terjadi, maka peta geopolitik global berpotensi mengalami perubahan signifikan.

Dunia dapat terpolarisasi menjadi beberapa blok kekuatan besar.

Blok pertama dipimpin oleh Amerika Serikat bersama sekutu-sekutunya seperti Israel dan negara-negara anggota NATO. Sementara blok lain cenderung memberikan dukungan atau simpati kepada Iran, termasuk Rusia, China, serta sejumlah negara di kawasan Global South.

“Konstelasi ini menunjukkan bahwa sistem internasional saat ini bergerak menuju multipolaritas, yaitu kondisi ketika kekuatan global tidak lagi didominasi oleh satu negara saja, melainkan oleh beberapa pusat kekuatan dunia,” tegas Kurniawan. (ab/wp)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *