Ramadan dan Ujian Integritas Pers

Ilustrasi Ramadan dan Pers ( AI )

WARTAPERWIRA.COM, Sabtu (28/2) – Setiap bulan suci Ramadan dalam tahun  Hijriah islam bulan ke 9 setiap tanggal 1, kita akan melihat suasana yang terbangun dalam suasana kekhusuan, tenang, penuh kedamaian  dalam kesehariannya selama satu bulan. Pada bulan itu semua umat Islam menjalankan perintah rukun Islam yang keempat yaitu ibadah puasa.

Dalam bulan suci Ramadan juga secara pribadi, setiap orang yang berpuasa tidak hanya sebatas menahan lapar dan haus semata, lebih dari itu secara mendasar seluruh lisan dan perilakunya senantiasa dijaga dan terjaga  dalam suasana kebatinan keislaman yang hakiki dalam kehidupan sosial.

Namun hal berbeda secara kontras dalam berbagai hal  konten-konten yang tersaji pers penuh dengan keriuhan, sensasional dan persaingan antara satu media dengan yang lainnya, untuk menyajikan informasi-informasi berita yang menggemparkan, menarik perhatian publik.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) mencatat bahwa sepanjang 25 Agustus hingga 21 Oktober 2025, pemerintah telah menangani 3.943 konten disinformasi, fitnah, dan kebencian (DFK) di berbagai platform digital, termasuk Facebook, YouTube, X (Twitter), TikTok, dan Telegram. Sementara itu, 1.674 isu hoaks telah diidentifikasi sepanjang satu tahun terakhir Oktober 2024–Oktober 2025.(Komdigi, 24/10/2025).

Pers idealnya harus mampu menyajikan tampilan informasi berita yang menyejukan dalam bulan puasa ini, namun karena faktor aktualitas mau tidak mau pers harus mensikapi aktualitas tersebut melalui berita-berita cepat yang sifatnya real times. Bahkan berita kegaduhanpun tidak luput pula untuk disajikan.

Pertanyaan yang layak untuk diangkat  adalah, jika umat Islam berpuasa menahan lapar dan dahaga, apakah pers juga mampu menahan nafsu klik, rating, dan sensasi?

Menahan Diri dari Sensasionalisme

Tidak jarang media – media massa kita  terjebak dalam  pertimbangan tertentu, untuk mendapatkan keuntungan jangka pendek dengan membuat judul-judul berita yang seolah-olah merupakan suatu kenyataan peristiwa yang diberitakan. Namun ketika kita mengklik judul tersebut konten yang muncul informasi berita yang sarat dengan iklan dan kepentingan komersial.

Dalam pandangan Miller (2012), hal ini menunjukkan bagaimana struktur organisasi kapitalis menempatkan pemilik modal sebagai pusat kendali, sementara pekerja dipaksa menyesuaikan diri demi keuntungan finansial perusahaan. Akibatnya, idealisme dan integritas jurnalistik kian terkikis.

Praktik ini selintas biasa saja, namun secara prinsip jurnalisme terjadi suatu proses manipulatif informasi berita pada publik untuk digiring pada suatu produk tertentu dalam rangka menumbuhkan persepsi untuk beraksi mengkonsumsi produk tersebut.

Adakalanya juga berita-berita yang ditampilkan diruang publik, esensi informasi yang muncul linier satu arah berasal dari sumber informasi, tanpa menghadirkan sumber informasi yang lain secara berimbang. Sehingga menimbulkan kerugian pada berbagai pihak lainnya yang terkait dengan persoalan dalam objek berita yang diberitakan.

Lainnya berita-berita selebritis yang sarat dengan traffic hadir pula di tampilkan, seolah-seolah persoalan yang terjadi terkait dengan kepentingan publik. Padahal apabila dicermati lebih jauh berita-berita tersebut tidak beda dengan halnya berita-berita penguatan personal branding, untuk meneguhkan keberadaan sang selebritis secara tidak langsung.

Ramadan sebagai Momentum Reposisi Pers

Reposisi itu dapat dimulai dari keberanian redaksi untuk mengedepankan akurasi di atas kecepatan, substansi di atas sensasi, serta keberimbangan di atas keberpihakan pragmatis. Prinsip-prinsip yang termaktub dalam Kode Etik Jurnalistik bukanlah sekadar dokumen normatif, melainkan fondasi moral yang justru menemukan relevansinya di tengah derasnya arus disinformasi.

Lebih jauh, reposisi pers di bulan suci juga menyangkut keberanian untuk menahan diri dari eksploitasi isu-isu yang berpotensi memecah belah. Kritik tetap perlu, investigasi tetap penting, tetapi penyajiannya dilakukan dengan proporsional, berimbang, dan berorientasi pada kepentingan publik yang luas.

Ramadan pada akhirnya adalah tentang penyucian bukan hanya jiwa, tetapi juga praktik. Bila momentum ini dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh, pers tidak sekadar menjadi penyampai informasi, melainkan penuntun peradaban. Dari ruang redaksi yang reflektif akan tumbuh jurnalisme yang lebih matang dari disiplin etis yang ditegakkan, akan lahir kepercayaan publik yang menguat.

Dan ketika integritas dijaga, profesionalisme diteguhkan, serta kepentingan publik ditempatkan di atas kepentingan sesaat, maka dari Ramadan itu pula akan tumbuh tunas-tunas jurnalisme yang berakar pada nilai, bertumbuh dalam tanggung jawab dan berbuah pada kemaslahatan bersama.

Menguatkan Kompas Moral Pers

Ramadan menghadirkan ruang refleksi bagi pers untuk menilai kembali arah dan tanggung jawabnya. Ujian integritas tidak pernah bersifat musiman, ia hadir dalam setiap keputusan redaksional. Di tengah tekanan komersial dan godaan sensasionalisme, pers dituntut menempatkan akurasi, keberimbangan, dan etika di atas kepentingan klik serta rating. Sebab kekuatan pers bukan pada kegaduhan, melainkan pada kepercayaan publik yang dibangun secara konsisten.

Momentum Ramadan menegaskan bahwa kemuliaan lahir dari kedalaman nilai, bukan dari keramaian. Jika ruang redaksi mampu menahan diri dari manipulasi dan keberpihakan yang tidak proporsional, maka jurnalisme akan tampil sebagai penjernih di tengah arus disinformasi. Apapun namanya ketika Pers dibangun diatas kesadaran, sudah sewajarnya Pers Indonesia dapat terus bertumbuh sebagai pilar demokrasi yang kredibel, menyejukkan, dan bermartabat.

Setelah Ramadan berlalu, apakah pers kembali lapar pada sensasi, atau tetap menjaga disiplin etika?

 Agus Budiana Redaksi Wartaperwira.com. Alumnus Journalism of Course : Thomson Foundation, University of Derby, The Open University, England. UK. Anggota Hostwriter. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi penulis.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *