
PURBALINGGA, WARTAPERWIRA.COM | Selasa (24/2) – Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) kering bagi siswa di sejumlah sekolah di Kabupaten Purbalingga selama bulan Ramadan menjadi sorotan. Sejumlah orang tua siswa menyampaikan kekecewaan mereka terhadap menu MBG kering yang dinilai tidak mencerminkan standar makanan bergizi, meskipun disebut-sebut memiliki alokasi anggaran yang besar.
Orang Tua Soroti Komposisi Menu MBG Kering di Purbalingga
Di salah satu SMA Negeri di Purbalingga, menu yang diterima siswa antara lain pisang ambon, telur rebus, roti bolu kukus, dan tahu bakso. Meski secara kuantitas terlihat cukup, sebagian orang tua menilai komposisi tersebut belum menggambarkan keseimbangan gizi yang ideal.
“Saya kaget ketika anak saya menunjukkan menunya. Porsinya memang ada beberapa item, tapi apakah itu sudah memenuhi standar gizi? Dengan anggaran sebesar itu, kami berharap menunya lebih layak,” ujar salah satu orang tua siswa yang meminta namanya tidak disebutkan, Selasa (24/2).
Keluhan serupa juga muncul dari orang tua siswa di salah satu Madrasah Ibtidaiyah (MI) swasta di Purbalingga. menu MBG kering yang diterima siswa terdiri dari roti, susu, dua butir udang tepung, dan buah jeruk.
“Kalau melihat anggarannya, seharusnya bisa lebih baik dari ini. Kami bukan menolak programnya, tapi berharap kualitasnya sesuai dengan tujuan awal, yaitu makanan bergizi untuk anak-anak,” kata orang tua siswa lainnya, Selasa (24/2).
Sejumlah wali murid menyatakan dukungan terhadap program pemenuhan gizi siswa, terutama di bulan Ramadan ketika asupan makanan menjadi perhatian penting. Namun, mereka berharap ada evaluasi terhadap variasi menu, nilai gizi, serta transparansi penggunaan anggaran.
Koordinator SPPG Belum Beri Tanggapan
Sementara itu, hingga berita ini diterbitkan, Koordinator SPPG Kabupaten Purbalingga, Mei Sandra, belum memberikan tanggapan terkait menu MBG kering yang dikeluhkan masyarakat. Upaya konfirmasi telah dilakukan melalui pesan WhatsApp, namun belum mendapatkan respons.
Isu ini pun menjadi perbincangan di kalangan masyarakat dan media sosial. Sejumlah pihak berharap instansi terkait segera memberikan klarifikasi resmi guna menjaga kepercayaan publik terhadap program yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi siswa tersebut.
Redaksi Warta Perwira
Dipasaran kan sudah jelas harganya….pasti bisa dihitung anggaran per porsinya…..wong nggak pake korupsi aja udah besar untungnya…apalagi misal ada korupsinya….wah wah Konoha.