Indonesia Target Jadi Pusat Ekonomi Syariah Dunia pada 2029
Foto: Firman Jatnika saat Konferensi pers di Aula Juanda, Gedung Dakwah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Sabtu (31/1). (Dedi/ wartaperwira.com)

JAKARTA, WARTAPERWIRA.COM Sabtu (31/1) – Indonesia menegaskan ambisinya untuk menjadi pusat ekonomi syariah dunia pada 2029. Hal ini disampaikan dalam Sarasehan Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah: Refleksi Kemerdekaan RI Tahun 2025, yang mengangkat tema “Menjadikan Indonesia Pusat Ekonomi Syariah Dunia” di Jakarta pada 13 Agustus 2025. Acara dihadiri oleh tokoh-tokoh nasional, antara lain Wakil Presiden RI ke-13 sekaligus tokoh ekonomi syariah, K.H. Ma’ruf Amin, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, serta Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas (sumber: bi.go.id).

Kolaborasi lintas sektor, penguatan rantai nilai halal, pembiayaan syariah yang inklusif dan adaptif, serta peningkatan literasi dan inklusi ekonomi syariah yang berakar pada nilai-nilai luhur Islam disebut menjadi kunci dalam mewujudkan target tersebut.

Prospek Industri Keuangan Syariah Nasional

Meski menghadapi tekanan ekonomi global dan domestik, industri keuangan syariah Indonesia masih memiliki prospek pertumbuhan positif. Saat ini, pangsa pasar perbankan syariah baru sekitar 8 persen dari total industri perbankan nasional, sehingga peluang ekspansi masih terbuka luas.
Dosen Pascasarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Jakarta, Firman Jatnika, menilai perbankan syariah lebih tahan terhadap ketidakpastian ekonomi dibandingkan perbankan konvensional.

Pernyataan ini disampaikannya dalam konferensi pers di Aula Juanda, Gedung Dakwah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Sabtu (31/1).

“Meskipun kondisi ekonomi ke depan tidak mudah, perbankan syariah menunjukkan resiliensi yang cukup baik. Hal ini tercermin dari pertumbuhan yang masih berada di atas rata-rata nasional,” ujar Firman.

Proyeksi dan Tantangan Ekonomi

Firman menjelaskan, pertumbuhan ekonomi nasional diproyeksikan berada di kisaran 5,1–5,2 persen, dengan sejumlah tantangan seperti tekanan inflasi dan ketidakpastian ekonomi global. Dalam kondisi tersebut, perbankan syariah justru menunjukkan daya tahan lebih kuat. Hingga Oktober 2025, perbankan nasional tumbuh 8,61 persen, sementara perbankan syariah mencatat pertumbuhan 11,5 persen, mencerminkan resiliensi dan peluang ekspansi yang masih besar.

Struktur, Skala, dan Kinerja Industri
Firman menekankan pentingnya skala aset untuk meningkatkan daya saing perbankan syariah, terutama dalam industri perbankan nasional yang cenderung oligopolistik.

“Skala yang lebih besar akan memberikan ruang bagi bank syariah untuk melakukan ekspansi, memperluas layanan, serta berinovasi dalam pengembangan produk,” katanya.

Kinerja keuangan perbankan syariah juga dinilai sehat, tercermin dari Return on Assets (ROA) di atas 2 persen dan Non Performing Financing (NPF) sekitar 0,8 persen, yang menunjukkan pengelolaan risiko yang baik.

Respons Praktisi dan Tren Permintaan
Dari sisi praktisi, Yely Dwiarti menyatakan tren positif ini juga dirasakan di lapangan. Masyarakat semakin tertarik menggunakan produk dan layanan keuangan syariah, tidak hanya karena faktor religius, tetapi juga karena produk yang kompetitif dan sesuai kebutuhan.

“Penguatan ekosistem ekonomi Islam menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan perbankan syariah ke depan. Sektor pendidikan, kesehatan, dan industri halal relatif lebih tahan terhadap krisis, sehingga menjadi peluang besar bagi bank syariah untuk tumbuh berkelanjutan,” ujar Yely.

Peran Strategis dan Prospek Global

Firman optimistis peran perbankan syariah akan semakin signifikan apabila didukung penguatan core business berbasis ekosistem ekonomi Islam serta pengembangan layanan lintas negara.

“Jika layanan keuangan syariah dikembangkan secara terintegrasi, termasuk pembiayaan sektor strategis dan kerja sama lintas negara, Indonesia berpotensi menjadi pemain penting dalam ekosistem keuangan syariah global,” pungkasnya.

Redaksi: WartaPerwira

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *