Prospek Industri Keuangan Syariah Tetap Positif di Tengah Tantangan Ekonomi
Foto: Firman Jatnika memberikan keterangan setelah konferensi pers di Aula Juanda, Gedung Dakwah, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Sabtu, 31 Januari 2026. ( Dedi/wartaperwira.com)

JAKARTA, WARTAPERWIRA.COM Sabtu (31/1)  – Industri keuangan syariah nasional dinilai masih memiliki prospek pertumbuhan yang positif di tengah tekanan ekonomi global dan domestik. Dengan pangsa pasar perbankan syariah yang baru mencapai sekitar 8 persen dari total industri perbankan nasional, peluang ekspansi dinilai masih terbuka lebar.

Dosen Pascasarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Jakarta, Firman Jatnika, menilai bahwa perbankan syariah memiliki daya tahan yang relatif lebih baik dibandingkan perbankan konvensional dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi.

Pernyataan ini disampaikan Firman Jatnika pada saat konferensi pers di Aula Juanda, Gedung Dakwah, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah, Jakarta Pusat, pada Sabtu, 31 Januari 2026.

“Meskipun kondisi ekonomi ke depan tidak mudah, perbankan syariah menunjukkan resiliensi yang cukup baik. Hal ini tercermin dari pertumbuhan yang masih berada di atas rata-rata nasional,” ujar Firman.

Firman menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional diproyeksikan berada pada kisaran 5,1–5,2 persen dengan sejumlah tantangan, mulai dari tekanan inflasi hingga ketidakpastian ekonomi global. Di tengah kondisi tersebut, perbankan syariah justru menunjukkan daya tahan yang lebih kuat dibandingkan industri perbankan secara keseluruhan. Hingga Oktober 2025, perbankan nasional tercatat tumbuh 8,61 persen, sementara perbankan syariah mampu mencatatkan pertumbuhan lebih tinggi sebesar 11,5 persen, mencerminkan resiliensi dan peluang ekspansi yang masih besar.

Dari sisi struktur industri, ia menekankan pentingnya skala aset untuk meningkatkan daya saing perbankan syariah, terutama di tengah karakter industri perbankan nasional yang cenderung bersifat oligopolistik.

“Skala yang lebih besar akan memberikan ruang bagi bank syariah untuk melakukan ekspansi, memperluas layanan, serta berinovasi dalam pengembangan produk,” jelasnya.

Selain itu, kinerja keuangan perbankan syariah juga dinilai sehat. Hal ini tercermin dari Return on Assets (ROA) yang berada di atas 2 persen serta Non Performing Financing (NPF) sekitar 0,8 persen, yang menunjukkan pengelolaan risiko yang baik.

Sementara itu, dari sisi praktisi perbankan syariah nasional, Yely Dwiarti, menyampaikan bahwa tren positif tersebut juga dirasakan langsung di lapangan. Menurutnya, minat masyarakat terhadap produk dan layanan keuangan syariah terus mengalami peningkatan.

“Kami melihat adanya peningkatan kesadaran masyarakat untuk menggunakan produk perbankan syariah, tidak hanya karena faktor religius, tetapi juga karena produk yang semakin kompetitif dan sesuai dengan kebutuhan,” kata Yely.

Ia menambahkan, penguatan ekosistem ekonomi Islam menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan perbankan syariah ke depan. Sektor-sektor seperti pendidikan, kesehatan, dan industri halal dinilai relatif lebih tahan terhadap krisis.

“Pembiayaan di sektor-sektor tersebut menjadi peluang besar bagi bank syariah untuk tumbuh secara berkelanjutan,” ujarnya

Firman pun optimistis peran perbankan syariah akan semakin signifikan apabila didukung oleh penguatan core business berbasis ekosistem ekonomi Islam serta pengembangan layanan lintas negara.

“Jika layanan keuangan syariah dikembangkan secara terintegrasi, termasuk pembiayaan sektor strategis dan kerja sama lintas negara, Indonesia berpotensi menjadi pemain penting dalam ekosistem keuangan syariah global,” pungkasnya.

Redaksi: WartaPerwira

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *