Sudut Pandang : Ambisi Amerika Serikat atas Greenland, Ancaman Geopolitik Baru dan Ujian Diplomasi Dunia.

Foto : A Kurniawan Ulung S.Sos, MA dosen prodi Hubungan Internasional, Universitas Satya Negara Indonesia Jakarta (Dok : Agus Budiana)

WARTAPERWIRA.COM, Senin (19/1) – Hasrat besar presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menguasai Greenland membuat heboh dunia internasional. Mengapa tidak, Greenland bukanlah merupakan tanah kosong tak bertuan. Namun sudah lama di Kelola oleh otoritas Greenland dibawah kekuasaan Denmark,

Alasan strategis Amerika adalah sebagai kepentingan keamanan nasional negaranya, namun cara-cara yang dilakukan oleh Amerika tentunya merupakan cara yang tidak tepat karena ada unsur pemaksaan kehendak untuk menguasai Greenland cenderung dengan upaya paksa militer.

Upaya diplomasi yang telah berlangsung antara Amerika dan Denmark, mengalami kegagalan, tentunya hal ini berpengaruh pada ikatan solidaritas negara anggota NATO lainnya di Eropa. Perancis, Jerman, Swedia, Norwegia, Belanda, Inggris, Finlandia dan Denmark telah mengirimkan pasukan militernya di Kawasan Greenland, dengan tujuan untuk berjaga-jaga.

Hal utama dari persoalan ini  secara geopolitik, akan berpengaruh pada konstelasi diplomasi dunia. Terutama diplomasi multilareal antara Amerika dengan anggota NATO, selain itu pula diplomasi ini juga akan dipengaruhi oleh dua negara besar lainnya yaitu : Rusia dan Cina. Dimana Rusia-Cina tidak akan tinggal diam apabila Amerika benar-benar ingin menganeksasi Greenland dengan cara-cara militer.

Untuk mendapatkan gambaran lebih jernih atas persoalan ini, Warta Perwira menemui salah satu dosen program studi Hubungan Internasional Universitas Satya Negara Indonesia, A. Kurniawan Ulung, S.Sos, MA di Jakarta Senin, 19/1/2026. Mas Alez panggilan akrabnya adalah mantan jurnalis The Asahi Shimbun, Asia.

Hal mendasar Amerika Serikat untuk menguasai Greenland, padahal wilayah tersebut merupakan wilayah otonom Denmark.

Menurut Kurniawan, keinginan Amerika Serikat untuk menguasai Greenland karena didorong oleh kepentingan strategis, keamanan, dan ekonomi jangka panjang. Secara geografis, Greenland memiliki posisi yang sangat penting di kawasan Arktik dan Atlantik Utara karena berfungsi sebagai titik strategis untuk sistem pertahanan rudal, pengawasan militer, dan jalur logistik AS.

Selain itu kepentingan ekonomi di Greenland, karena kaya akan sumber daya alam strategis, termasuk mineral dan uranium. Di tengah meningkatnya kompetisi global, terutama dengan Tiongkok, lanjutnya Amerika melihat Greenland sebagai aset penting untuk mengamankan rantai pasok sumber daya strategis.

Hal lain tambahnya, perubahan iklim turut memperkuat kepentingan ini, karena mencairnya es membuka jalur pelayaran baru di Arktik dan akses eksploitasi sumber daya yang sebelumnya tidak terjangkau. Secara hukum Greenland berada di bawah kedaulatan Denmark, namun Amerika memandang wilayah ini sebagai kepentingan keamanan nasional.

Peluang diplomasi selanjutnya setelah gagalnya diplomasi antara Amerika dan Denmark.

Kurniawan menekankan, peluang diplomasi tetap terbuka. Kegagalan diplomasi sebelumnya lebih disebabkan oleh pendekatan unilateral dan simbolik AS yang tidak sensitif terhadap kedaulatan Denmark dan aspirasi rakyat Greenland.

Ke depan, diplomasi dapat diarahkan melalui pendekatan trilateral: Amerika–Denmark–Pemerintah Otonom Greenland. Dengan pendekatan yang lebih inklusif dan menghormati prinsip self-determination Greenland, diplomasi tidak hanya mungkin, tetapi juga lebih berkelanjutan.

Terkait NATO sebagai sekutu Amerika di Eropa, langkah unilateral terhadap Greenland dapat mengubah lanskap diplomasi Amerika-Eropa.

“Jika Amerika masih bertindak secara unilateral terkait Greenland, hal ini berpotensi mengganggu solidaritas NATO dan memperdalam ketegangan antar anggota NATO. Denmark adalah anggota NATO, sehingga tekanan atau tindakan sepihak Amerika dapat dipersepsikan sebagai pengabaian terhadap prinsip kolektif dan konsultatif NATO,” Tandas Kurniawan

Menurutnya, dalam jangka panjang, langkah semacam itu dapat memperkuat keinginan Uni Eropa untuk mengurangi ketergantungan keamanan pada Amerika dan menggeser hubungan Amerika–Eropa dari kemitraan berbasis nilai ke hubungan yang lebih transaksional.

Selama Amerika tetap menempatkan isu Greenland dalam kerangka NATO dan keamanan kolektif, perubahan lanskap diplomasi tersebut masih dapat dikelola.

Reaksi Rusia dan Tiongkok, apabila Greenland dikuasai secara militer.

Kurniawan menegaskan, Rusia akan melihat langkah tersebut sebagai eskalasi langsung di kawasan Arktik. Responsnya kemungkinan berupa peningkatan kehadiran militer di Arktik Rusia, modernisasi pangkalan militer, dan penguatan patroli di jalur Laut Arktik.

Tiongkok, meskipun bukan negara Arktik, reaksi Tiongkok kemungkinan bersifat diplomatik dan ekonomi, seperti memperkuat kerja sama dengan Rusia, meningkatkan investasi di negara Arktik lain, dan mendorong narasi multilateralisme dan anti-hegemoni Amerika.

Langkah militer Amerika akan mempercepat militerisasi Arktik dan memperdalam rivalitas kekuatan besar.

Dampak terhadap hubungan diplomatik Indonesia dengan Amerika Serikat  ke depan.

“Bagi Indonesia, isu Greenland mungkin tidak akan berdampak langsung. Terhadap Amerika Serikat, Indonesia mungkin akan mempertahankan hubungan pragmatis, terutama di bidang ekonomi, pertahanan, dan teknologi, sambil tetap menegaskan prinsip penghormatan terhadap kedaulatan dan hukum internasional,” Jelas Kurniawan.

Kurniawan berharap, secara keseluruhan, Indonesia akan cenderung konsisten dengan politik luar negeri bebas aktif, mendorong penyelesaian damai dan diplomatik, dan akan memanfaatkan dinamika global ini untuk memperkuat perannya sebagai middle power yang menjembatani kepentingan negara besar dan Global South.

Redaksi: WartaPerwira

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *