
WARTAPERWIRA.COM, Minggu (18/1) – Kasus terbaru di Gunung Slamet kembali menyadarkan publik tentang bahaya Tektok dalam dunia pendakian. Seorang pendaki remaja berusia 18 tahun dilaporkan hilang setelah melakukan pendakian tektok melalui jalur Dipajaya pada 27 Desember 2025 dengan target turun di hari yang sama. Rencana itu tidak pernah terwujud. Rekannya ditemukan dalam kondisi lemas di jalur, sementara korban akhirnya ditemukan meninggal dunia.
Peristiwa ini menegaskan bahwa tektok bukan lagi sekadar soal disiplin waktu atau kemampuan fisik. Di era media sosial, Tektok telah berubah menjadi simbol eksistensi, ajang pembuktian diri, bahkan perlombaan popularitas yang kerap mengabaikan keselamatan.
Makna yang Bergeser
Dalam pemahaman awal komunitas pendaki, Tektok berarti pendakian naik-turun dalam satu hari dengan perencanaan matang, kalkulasi waktu ketat, serta kesiapan fisik dan mental yang memadai. Namun makna ini mengalami pergeseran.
Kini, tektok lebih sering dimaknai sebagai tantangan ekstrem demi konten dan pengakuan. Jalur pendakian diperlakukan layaknya lintasan lomba. Puncak gunung menjadi latar foto, bukan lagi titik evaluasi keselamatan. Padahal, alam tidak pernah tunduk pada ego manusia.
Data Kecelakaan dan Pola Risiko
Pada tahun 2025 hingga pertengahan tahun, sedikitnya 16 pendaki dilaporkan meninggal dunia akibat hipotermia dan jatuh di berbagai gunung di Indonesia. Angka tersebut dihimpun dari berbagai sumber pemberitaan serta evaluasi otoritas taman nasional. Data ini tidak berdiri sendiri. Mayoritas korban berasal dari kelompok usia muda yang terjebak euforia petualangan instan dan budaya FOMO.
Dalam praktik Tektok, banyak pendaki mulai mengabaikan prinsip dasar keselamatan. Perhitungan waktu berbasis medan dan cuaca sering disepelekan. Navigasi digantikan oleh kepercayaan berlebihan pada GPS dan insting. Tidak sedikit pula yang lebih memprioritaskan target konten dibanding kondisi fisik. Ketika logika keselamatan dikalahkan oleh ego, kecelakaan hanyalah persoalan waktu.
Ketika Tektok Menjadi Judi Nyawa
Budaya digital telah menggeser orientasi pendakian. Gunung tak lagi dipandang sebagai ruang yang harus dihormati, melainkan sebagai panggung pencitraan. Ironisnya, tragedi justru sering menjadi viral, bukan karena prestasi, tetapi karena kelalaian.
Pendakian sejatinya bukan kompetisi. Alam tidak mengenal algoritma, tidak peduli jumlah pengikut, dan tidak memberi toleransi pada kesalahan kecil. Satu keputusan ceroboh dalam praktik tektok bisa berujung fatal.
Mengembalikan Etika
Fenomena ini tidak harus dihapus, tetapi perlu dikoreksi secara kolektif. Komunitas pendaki perlu mengampanyekan standar tektok yang realistis, berbasis kemampuan, manajemen risiko, dan etika keselamatan, bukan sensasi semata.
Literasi risiko digital juga harus diperkuat, terutama bagi generasi muda, agar memahami bahwa konten ekstrem bukan prestasi jika mengorbankan nyawa. Pengelola jalur pendakian pun perlu memperketat regulasi dan skrining pendaki tektok, termasuk batas waktu, kesiapan logistik, dan kompetensi pendaki.
Lebih penting lagi, budaya pendakian harus kembali menempatkan keselamatan sebagai indikator keberhasilan. Bukan siapa tercepat mencapai puncak, melainkan siapa paling bertanggung jawab pulang dengan selamat.
Harus Kembali ke Akal Sehat
Kasus Gunung Slamet menjadi pengingat bahwa Tektok bukan permainan. Gunung tidak bisa di-tag, tidak bisa di-pause, dan tidak mengenal kompromi.
Sebelum melangkah cepat mengejar puncak dan kamera, berhentilah sejenak untuk berpikir: apakah tujuan utama kita mendaki adalah eksistensi, atau keselamatan? Sebab dalam pendakian, kemenangan sejati bukan berada di ketinggian, tetapi ketika kaki kembali menapak di rumah.
Redaksi: WartaPerwira