Foto: Presiden AS Donald Trump (Dok. Pixabay)
WARTAPERWIRA.COM, Jumat (9/1) – Dalam panggung geopolitik global, Amerika Serikat kerap tampil sebagai pengkhotbah perdamaian. Diplomasi AS dibungkus dengan narasi luhur: demokrasi, hak asasi manusia, dan stabilitas internasional. Namun, di balik pidato yang terdengar menenangkan itu, dunia menyaksikan pola kebijakan luar negeri yang ambigu dan kontradiktif. Setangkai bunga digenggam tangan kiri, sementara senjata tergenggam erat di tangan kanan sebuah simbol klasik dari diplomasi koersif. Amerika datang membawa pesan damai, tetapi bersiap menekan dengan kekuatan militer. Bagaikan serigala yang memasuki perkampungan domba, kehadirannya kerap lebih menimbulkan ketakutan ketimbang rasa aman.
Retorika Damai, Praktik Kekuasaan
Dalam banyak konflik internasional, AS menempatkan dirinya sebagai penjamin tatanan dunia berbasis aturan (rules-based international order). Namun sejarah mencatat bahwa ketika kepentingan strategisnya terancam, prinsip-prinsip tersebut kerap dilenturkan. Intervensi militer, sanksi sepihak, hingga dukungan terhadap perubahan rezim sering dibenarkan atas nama stabilitas dan demokrasi. Di sinilah ironi itu bekerja: damai dijadikan bahasa, kekuatan dijadikan alat utama.
Media internasional seperti The Guardian dan Le Monde berulang kali menyoroti paradoks ini. AS dipuji sebagai kekuatan normatif, namun sekaligus dikritik sebagai aktor yang menormalisasi penggunaan kekerasan selektif. Perdamaian, dalam praktik kebijakan luar negeri Washington, sering kali bukan tujuan akhir, melainkan instrumen politik.
Pandangan Pakar Internasional : Idealisme yang Dikawal Senjata
Pakar hubungan internasional Noam Chomsky menyebut pola ini sebagai manufactured consent—narasi moral yang dibangun untuk mendapatkan legitimasi publik terhadap tindakan koersif. Menurutnya, bahasa perdamaian sering berfungsi sebagai tirai yang menutupi kepentingan geopolitik dan ekonomi.
Andrew Bacevich, mantan perwira militer AS sekaligus kritikus kebijakan luar negeri, bahkan lebih lugas. Ia menilai Amerika telah terjebak dalam kecanduan kekuatan militer, seolah setiap masalah global bisa diselesaikan melalui superioritas senjata. Diplomasi pun menjadi sekunder, sementara laras senjata tetap menjadi argumen terakhir—dan sering kali, argumen pertama.
John Ikenberry, akademisi liberal-institusionalis, mengingatkan bahwa pendekatan semacam ini justru merusak legitimasi kepemimpinan global AS. Ketika norma internasional ditegakkan secara selektif, kepercayaan dunia perlahan runtuh. Perdamaian yang ditawarkan tidak lagi dipandang sebagai niat tulus, melainkan sebagai taktik dominasi.
Tokoh Politik Amerika Serikat dan Dilema Moral
Ironi kebijakan ini juga memicu perdebatan di internal Amerika sendiri. Sejumlah anggota Kongres mempertanyakan legalitas dan moralitas intervensi luar negeri tanpa mandat internasional yang jelas. Mereka menilai AS berisiko kehilangan otoritas moral ketika berbicara tentang perdamaian, sementara tindakannya mencerminkan logika kekuasaan klasik.
Namun di sisi lain, kubu hawkish dalam politik AS tetap memandang kekuatan militer sebagai syarat utama perdamaian. Dalam logika ini, dunia dianggap lebih aman jika Amerika tetap dominan. Kritik pun sering dipatahkan dengan dalih keamanan nasional dan kepemimpinan global.
Perspektif Global Selatan: Damai yang Mencurigakan Global
Bagi banyak negara di Global South, retorika perdamaian AS justru dibaca dengan kecurigaan. Pengalaman sejarah kolonialisme dan intervensi membuat narasi damai terasa seperti pengulangan pola lama dalam kemasan baru. Bunga diplomasi memang tampak indah, tetapi ujung durinya adalah senjata dan sanksi.
Metafora serigala di perkampungan domba menjadi relevan: bukan karena setiap kebijakan AS selalu agresif, tetapi karena ketidakseimbangan kekuatan membuat “pilihan damai” sering terasa dipaksakan. Perdamaian yang lahir dari ketakutan, pada akhirnya, bukanlah perdamaian yang berkelanjutan.
Penutup: Damai yang Perlu Dipertanyakan Dunia
Retorika perdamaian Amerika Serikat hari ini berada di persimpangan antara idealisme dan realpolitik. Selama setangkai bunga dan senjata terus digenggam bersamaan, dunia akan terus mempertanyakan: apakah pesan damai itu sungguh undangan dialog, atau sekadar pembuka sebelum tekanan berikutnya?
Dalam politik global, damai bukan sekadar kata-kata yang diucapkan di podium internasional. Ia menuntut konsistensi antara narasi dan tindakan. Tanpa itu, perdamaian hanya akan terdengar sebagai gema indah yang tenggelam oleh dentuman laras senjata.