
Oleh: H. Sunyoto Merdeka
WARTAPERWIRA.COM, Jumat (9/1) – Ramadhan merupakan bulan yang memiliki kedudukan istimewa dalam ajaran Islam. Kehadirannya bukan sekadar menandai perubahan pola makan dan aktivitas harian umat Muslim, melainkan menjadi momentum penting untuk membangun ketakwaan, memperbaiki akhlak, serta memperkuat solidaritas sosial. Karena itu, menyambut bulan ini sejatinya berarti menyiapkan diri untuk melakukan perubahan, baik secara spiritual maupun moral.
Allah SWT menegaskan bahwa tujuan utama ibadah puasa adalah pembentukan ketakwaan. Hal ini sebagaimana tercantum dalam firman-Nya:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Ketakwaan dalam konteks ini tidak hanya bermakna kepatuhan ritual, tetapi juga tercermin dalam perilaku sosial, kejujuran, pengendalian diri, serta tanggung jawab moral dalam kehidupan bermasyarakat. Puasa melatih manusia untuk menahan hawa nafsu, menjaga lisan, dan mengendalikan emosi, sehingga terbentuk karakter yang lebih matang secara spiritual dan etis.
Rasulullah SAW menegaskan bahwa puasa yang tidak diiringi dengan perbaikan akhlak akan kehilangan nilai substansinya. Dalam sebuah hadis disebutkan:
“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan keji, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.”
(HR. Bukhari)
Hadis ini menegaskan bahwa kualitas puasa tidak diukur dari aspek fisik semata, tetapi dari keberhasilan menahan diri dari perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai moral dan kemanusiaan.
Selain sebagai sarana pembentukan karakter, Ramadhan juga merupakan bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia. Allah SWT berfirman:
“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan atas petunjuk itu serta pembeda antara yang benar dan yang batil.”
(QS. Al-Baqarah: 185)
Dengan demikian, Ramadhan seharusnya menjadi momentum untuk meningkatkan interaksi umat dengan Al-Qur’an, baik melalui tilawah, tadabbur, maupun pengamalan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dalam kehidupan sosial dan kebijakan personal sehari-hari.
Dimensi sosial juga tampak kuat melalui anjuran memperbanyak sedekah, infak, dan zakat. Pengalaman lapar dan dahaga selama berpuasa diharapkan dapat menumbuhkan empati terhadap kelompok masyarakat yang hidup dalam keterbatasan. Dari sini, Ramadhan tidak hanya membangun kesalehan individual, tetapi juga kesalehan sosial yang tercermin dalam kepedulian dan solidaritas.
Ramadhan juga menjadi waktu yang tepat untuk memperbaiki relasi antarindividu. Islam menempatkan sikap memaafkan sebagai bentuk kemuliaan akhlak. Rasulullah SAW bersabda:
“Tidaklah seseorang memberi maaf, kecuali Allah akan menambah kemuliaan baginya.”
(HR. Muslim)
Dalam konteks sosial yang kerap diwarnai konflik, perbedaan pandangan, dan polarisasi, pesan rekonsiliasi Ramadhan menjadi sangat relevan untuk menjaga keharmonisan dan persatuan masyarakat.
Namun, esensinya tidak berhenti pada intensitas ibadah selama satu bulan. Ramadhan sejatinya merupakan proses pembinaan karakter yang hasilnya harus terlihat setelah bulan suci berlalu. Rasulullah SAW mengingatkan:
“Celakalah seseorang yang mendapati bulan Ramadhan lalu berlalu, tetapi dosanya tidak diampuni.”
(HR. Tirmidzi)
Hadis ini menunjukkan bahwa Ramadhan yang tidak menghasilkan perubahan perilaku merupakan kerugian besar secara spiritual.
Oleh karena itu, keberhasilan dalam bulan ini tidak hanya diukur dari ramainya aktivitas ibadah, tetapi dari konsistensi dalam menjaga nilai-nilai ketakwaan, kejujuran, kedisiplinan, serta kepedulian sosial dalam kehidupan sehari-hari setelahnya.
Dalam konteks tersebut, Ramadhan harus dipahami sebagai momentum reflektif untuk membangun pribadi yang lebih berintegritas dan masyarakat yang lebih berkeadaban. Ia bukan sekadar ritual tahunan, tetapi sarana transformasi moral yang berkelanjutan.
Menyambut Ramadhan dengan kesadaran ini berarti menempatkannya sebagai titik awal perubahan, bukan sekadar rutinitas yang berulang tanpa dampak nyata. Di sinilah makna sejati ucapan Marhaban Yaa Ramadhan: sebuah sambutan terhadap bulan yang membuka peluang besar bagi perbaikan diri dan perbaikan sosial secara bersamaan.(SM/WP)