iIustrasi berita (jurnalistik) dalam simbol mouse sebagai alat klik (dok : iStock)
WARTAPERWIRA.COM-Sebagai sebuah prinsip dalam pemberitaan, jurnalistik senantiasa menempatkan filosofi dan prinsip dasar bagaimana seharusnya media massa melalui para jurnalisnya dapat menjalankan tugas dengan baik dan benar berdasarkan kaidah-kaidah yang menjadi ukuran tetap dan menjadi pedoman bagi seluruh jurnalisnya.
Mensitir pemikiran Bill Kovach (2024) dalam konsep jurnalistik terdapat beberapa prinsip dasar yang harus dipatuhi oleh seluruh jurnalis, beberapa diantaranya meliputi : kebenaran, independen, kepentingan publik, verifikasi, berimbang, watch dog. Tentunya prinsip-prinsip ini merupakan harga mati yang seharusnya dalam kegiatan jurnalistik.
Persoalannya, adalah perkembangan teknologi komunikasi di era digital, menuntut perubahan lanskap sistem jurnalistik. Faktor kecepatan menjadi salah satu penentu kegiatan jurnalistik harus mampu menyesuaikannya tanpa mengorbankan prinsip-prinsip jurnalistik diatas.
Selain itu dalam konteks bisnis, tentunya media massa terutama pers harus bisa hidup dan eksis dari waktu ke waktu. Salah satu ukuran untuk melihat hal tersebut adalah sejauh mana jumlah viewers pengunjung yang membaca informasi-informasi berita yang disampaikan oleh suatu media massa. Tentunya hal ini bukanlah perkara mudah bagi insan-insan pengelola media massa dan para jurnalisnya.
Disatu sisi aspek Idealisme harus senantiasa dikedepankan, untuk menjaga marwah kualitas informasi berita yang dipercaya oleh publik. Di sisi lain harus mampu pula mensikapi faktor kecepatan dan viewers yang mengkonsumsi informasi berita kita.
Akhirnya muncul istilah clickbait dan angka, dua aspek ini sepertinya menjadi sebuah keniscayaan yang harus dilakukan oleh seluruh media massa agar senantiasa mampu menjalankan fungsinya sebagai media massa pers dan selalu adaptasi dengan perkembangan zaman yang serba digital.
Istilah clickbait menurut pandangan Romli A.s (2018) mengarah ke negatif, yakni “jebakan klik” karena menjebak khalayak yang melihat. Judul atau headline yang bersifat clickbait adalah judul-judul “menyimpan rahasia” sehingga memicu penasaran yang melihat.
Hal tersebut apabila kita cermati, dalam praktik kegiatan jurnalistik, judul-judul pemberitaan dalam headline sering kita temukan untuk memancing perhatian pembaca, untuk membuka dengan satu klik, namun setelah dibuka judul yang muncul tidak sesuai dengan konten berita yang di informasikan. Apabila suatu media massa keseringan melakukan clickbait untuk memancing pembaca, kepercayaan publik perlahan akan menurun.
Begitu pula dengan angka dalam hal ini kita bicara traffic jumlah pembaca yang melihat dan menkonsumsi suatu informasi berita dijadikan acuan oleh media massa untuk mendapatkan dukungan iklan. Karena data traffic tersebut merupakan bukti otentik yang dapat dijadikan jualan pada pengiklan.
Terkait dengan berita-berita hardnews, tentunya akan berpengaruh pada keberimbangan dan verifikasi. Dalam hal ini, akan terjadi benturan kepentingan yang harus dilakukan oleh media massa. Pertanyaan yang layak untuk disematkan Bagaimana cara menyepadankan idealisme prinsip jurnalistik dengan tuntutan kebutuhan media massa secara bisnis dalam sistem digital?
Idealisme jurnalistik berkualitas
Dalam idealisme jurnalistik berkualitas, seluruh informasi berita yang disampaikan merupakan produk luaran utama suatu media massa, hendaknya senantiasa berdasarkan pada kebenaran faktual dan objektif, artinya seluruh fakta berupa data-data yang diliput, dikumpulkan dilapangan apa adanya dan dapat dipertanggung jawabkan secara profesi jurnalistik.
Keberimbangan pastinya akan terkait dengan mekanisme verifikasi yang biasa dilakukan baik oleh jurnalis maupun oleh manajemen redaksi. Jangan hanya karena faktor kecepatan karena aktualitas dan memburu kunjungan pembaca dengan segera, akhirnya clickbait dilakukan dalam sebuah judul headline berita, sehingga keberimbangan dan verifikasi longgar.
Hal yang tidak kalah penting dan sangat penting, adalah konsistensi dalam kode Etik Jurnalistik sebagai nilai Etika yang wajib dijunjung dan dipegang teguh oleh seluruh pemangku kepentingan yang berada dalam ekosistem jurnalistik dalam proses pelaksanaannya, mulai dari jurnalis, redaksi sampai dewan redaksi.
Semuanya dilakukan bagi kepentingan publik yang lebih besar dan luas, sebagai salah satu bentuk tanggung jawab sosial media massa pada masyarakat. Karena media massa akan hadir dan menjalankan fungsinya, ketika masyarakat juga hadir sebagai subjek sekaligus objek berita bagi lingkungan di kehidupannya.
Apabila idealisme prinsip jurnalistik berkualitas dilakukan dengan penuh dan konsisten, maka clickbait dan angka bukan lagi menjadi ancaman. Keduanya justru akan hadir secara alami sebagai konsekuensi dari informasi yang berkualitas dan mencerdaskan publik.
Semua itu dilakukan demi kepentingan publik yang lebih luas. Media massa hanya akan bermakna ketika hadir sebagai ruang informasi yang dipercaya, bukan sekadar mesin klik.
Tetap menjaga marwah idealisme Jurnalistik
Ditengah gempuran ragam informasi, kecanggihan teknologi, kemajuan dalam sistem digitalisasi. Dalam informasi berita, kita tetap berdiri tegak lurus dan berhidmat pada idealisme jurnalistik yang mampu mengawal dan memberikan hal-hal faktual dalam setiap informasi.
Hal-hal faktual inilah yang nantinya membantu mengarahkan solusi-solusi atas berbagai persoalan dari setiap kejadian-peristiwa yang dialami oleh masyarakat, minimal membuka tabir realitas tersembunyi maupun realitas semu yang selama ini tidak pernah disadari oleh masyarakat.
Menjaga idealisme jurnalistik bukan berarti menolak perubahan, melainkan memastikan bahwa perubahan tidak menggerus marwah profesi sebagai jurnalis.
Redaksi Warta Perwira