
WARTAPERWIRA.COM, Kamis (1/1) – Setiap pergantian tahun, dunia seolah serempak menghitung mundur. Kembang api meledak di langit, terompet ditiup, dan ucapan “selamat tahun baru” menggema di mana-mana. Tahun Baru Masehi hadir sebagai simbol universal pergantian kalender global. Namun bagi umat Islam, ada satu momen lain yang tak kalah penting: Tahun Baru Hijriah, 1 Muharram. Sayangnya, dua tahun baru ini sering diperlakukan sangat berbeda.
Tahun Baru Masehi dan Hijriah, Dua Cara Memaknai Waktu
Tahun Baru Masehi kerap dirayakan dengan gegap gempita. Ia menjadi identik dengan pesta, hiburan, dan euforia sesaat. Tidak sedikit yang larut dalam kemeriahan tanpa sempat bertanya: apa yang sebenarnya berubah, selain angka tahun? Islam tidak melarang pergantian kalender Masehi sebagai sistem penanggalan, namun Islam mengingatkan bahwa waktu adalah amanah, bukan sekadar alasan untuk bersenang-senang.
Berbeda dengan itu, Tahun Baru Hijriah hadir dalam suasana yang lebih hening dan penuh makna. Kalender Hijriah tidak dimulai dari kelahiran tokoh besar atau peristiwa megah, melainkan dari hijrah sebuah perjalanan berat Nabi Muhammad dan para sahabat demi mempertahankan iman. Inilah pesan kuat Islam tentang waktu: perubahan sejati lahir dari pengorbanan dan keberanian untuk menjadi lebih baik.
Muharram mengajarkan bahwa tahun baru bukan soal pesta, tetapi muhasabah. Bukan tentang kembang api, melainkan tentang arah hidup. Islam memandang pergantian tahun sebagai kesempatan untuk bertanya pada diri sendiri:
Apakah aku lebih dekat kepada Allah dibanding tahun lalu?
Apakah waktuku digunakan untuk hal yang bernilai atau justru terbuang sia-sia?
Tahun Baru dalam Pandangan Islam
Pandangan Islam terhadap waktu sangat tegas. Allah bersumpah dengan waktu dalam Al-Qur’an khususnya pada Surat Al-‘Ashr (demi masa) sebagai tanda betapa berharganya setiap detik kehidupan. Maka, baik Tahun Baru Masehi maupun Tahun Baru Hijriah seharusnya tidak berlalu tanpa makna. Yang membedakan adalah cara menyikapinya.
Islam tidak menolak kemajuan zaman, tetapi menawarkan kedalaman makna. Di tengah hiruk pikuk pergantian tahun Masehi, umat Islam diingatkan oleh Tahun Baru Hijriah bahwa hidup bukan sekadar berjalan ke depan, tetapi juga menuju arah yang benar.
Akhirnya, dua tahun baru ini seharusnya tidak dipertentangkan, melainkan dijadikan cermin. Tahun Baru Masehi mengingatkan kita bahwa waktu terus berjalan, sementara Tahun Baru Hijriah mengingatkan ke mana seharusnya kita melangkah.
Karena dalam pandangan Islam, hakikat tahun baru tidak terletak pada pergantian angka, melainkan pada kesediaan hati untuk berbenah dan amal yang terus diperbaiki.
Redaksi: WartaPerwira